Di dalam artikel yang berjudul “More Than Just A Ticklish Subject: History, Posmodernity and God”, Laurence Paul Hemming menyampaikan sejumlah kritik terhadap posmodernitas. Di dalam kritik ini terkesan ia tidak memilah posmodernitas sebagai kondisi-kondisi masyarkat maupun sebagai pandangan filsafat. Hemming sendiri mengambil posisi sebagai pembela kristianitas yang prihatin.

Keprihatinan utama Hemming adalah pada efek terkuat yang dihasilkan posmodernitas yakni adalah bahwa kita sekarang membangun hubungan antara diri sepenuhnya dalam kerangka model yang diciptakan oleh praktek terapi dan konstruksi psikologis mengenai pribadi. Pembangunan diri semacam ini merasuk juga dalam pandangan hubungan antara manusia dengan Allah: yang makin simetris dan setara. Allah dipandang dengan diturunkan semata-mata sebagai ‘self’ atau another self. Bagaimana ini dijelaskan? 

Menurut Hemming, modernitas selain ditandai dengan produk-produk kelam sebagaimana nampak dalam fasisme, komunisme dan kapitalisme, juga ditandai secara positif dengan optimisme yang mantab ke arah masa depan. Pandangan optimistik di dalam posmodernisme ini terdapat baik dalam proyek serta skenario-skenario besar sebagaimana ada dalam Marxisme bahkan Stalinisme, maupun dalam skenario teknologisasi dan perluasan kapasitas modal yang dibuat untuk mengatasi persoalan kemanusiaan secara universal. Dalam perspektif ke arah masa depan ini, modernisme melihat masa sekarang sebagai jalur langsung menju masa depan yakni tempat di mana yang lebih baik dan yang terbaik berada; sementara masa lalu dipahami sebagai tempat di mana tidak ada lagi yang bisa dilakukan, masa lalu selalu harus dihapuskan demi mencapai masa depan. Di sini kemanusiaan makin dikuduskan sebagai tujuan dan kemungkinan yang tiada habisnya. Dengan keadaan dan alasan inilah maka modus waktu yang tersedia dalam modernitas bersifat apokaliptik. 

Lebih lanjut ia menegaskan bahwa di dalam modernitas masa depan ada dan diharapkan, namun lebih sebagai  harapan bersama. Karenanya kebutuhan di dalam modernitas adalah kebutuhan akan negara, partai, organisasi, kebutuhan dalam kebersamaan yang mengatasi identitas individu. Modernitas dikarakterkan oleh produksi kesadaran umum yang terus-terusan guna tetap mengarahkan kehendak untuk menjamin dan mengawal cakrawala masa depan ini. Perbedaan dihapuskan dan orang khusyuk di bawah penerapan organisasi dengan standar identitas bersama. Organisasi semacam inilah yang berperan sebagai hantu yang menggantikan tempat Allah, ia berperan baik sebagai tujuan maupun realisasi dari apa yang didamba-rindukan. Modernitas selalu ditandai dengan kehendak untuk merealisasikan ‘the common will’demi terpeliharanya sebuah ‘common future.

Apabila modernitas ditandai oleh kedahagaan untuk memusakan ‘the common will’, maka posmodernitas ditandai dengan kedahagaan untuk memuasakan semata-mata my will, karenanya, di sini tidak ada proyeksi akan pentingnya memelihara kemungkinan masa depan, yang terpenting adalah yang di sini yang sekarang! Di titik ini menurutnya lagi, posmodernitas menghapuskan masa depan. Posmodernitas tidak diperintah oleh kehendak melainkan oleh kebutuhan akan kehendak.

Habermas secara paradoksal mengatakan bahwa posmodernitas adalah penyaliban atas tradisi modernitas dalam rangka menghasilkan ruang bagi historisisme yang baru. Dengan pendapat ini maka implisit di dalam Habermas adanya penerimaan akan posmodernitas di dalam modernitas. Sementara Perry Anderson  berpendapat bahwa posmodernitas adalah ‘a gradual degradation of modernism itselfl” terutama manakala seluruh produk moderniitas itu telah makin terkomodifikasi dan terintegrasi ke dalam sirkuit modal. Di sini mirip dengan Habermas, Anderson juga menerima posmodernitas sebagai bagian dari modernitas, namun bagian yang justru mendegradasikan modernitas. Dengan demikian, posmodernitas tidak pernah melampaui apa yang mendahului (modernitas), namun lebih mengintensifkan dan mengarahkan tendensi-tendensi yang telah tersedia di dalam modernitas. Dengan begitu, posmodernitas selalu bersifat self-refferential, dia melacak dan menemukan kembali segala hal di bawah modernitas namun pada saat yang sama ia juga menghancurkan makna dari segala hal yang ia temukan itu. Dengan keadan ini maka posmodernitas pada dasarnya selalu membawa kembali yang masa lalu ke masa kini, dan membawa masa kini kembali lagi ke masa lalu. 

Di dalam modernitas sejarah adalah sejarah perbuatan dan tingkatan-tingkatan besar perkembangan peradaban umat manusia. Sejarah dalam modernitas terungkap dalam hirarki ‘good-better-best’ atau dalam mantra tahap-tahap perkembangan high-higher-highest. Dengan ini secara otomatis modernitas mengandaikan kemungkinan apokaliptikal, yakni perkembangan ke arah puncak dan akhir. Di pihak lain, dalam posmodernitas, sejarah semata-mata adalah sejarah dari the self, sejarah mengenai ‘aku dan bagimana aku terbentuk’.Sejarah tidak lebih dari instrumentalisasi guna memenuhi apa yang saya kehendaki.  Keadaan ini yang kemudian disinggung oleh Paus Yohanes Paulus II dalam Surat ensiklik berjudul Fides et Ratio bahwa  umat manusia tengah memasuki situasi-situasi kultural baru yang didominasi oleh‘krisis akal budi dan..merebaknya nihilisme”. Nihilisme di sini bukanlah tendensi putus-asa dan kehancuran sebagaimana yang melanda Eropa pada paruh pertama abad duapuluh. Namun lebih dikarenakan oleh eforia, kemakmuran dan ‘good-life’ yang digenggam secara privat namun kurang diperlakukan dalam suatu tanggungjawab yang lebih luas. 

Dengan pandangan akan kehendak yang semata-mata berbasis pada ‘my will’ serta pandangan akan struktur waktu yang terpusat pada nostalgia dan kesekarangan, maka pada akhirnya posmodernitas menghapuskan masa depan dan tendensi ke arah cakrawala universalitas, dengan itu posmodernitas juga mendorong ke arah proklamasi kematian Allah. Allah telah digantikan dengan ‘self’ yang berputar dalam radian waktu yang semata-mata sekarang.

Lebih jauh, Hemming kemudian membahas bahwa penonjolan akan peran ‘self’ dan pergeseran akan posisi Allah dalam filsafat sendiri sebenarnya sudah dijejakan secara cukup lama. Di dalam Thomas Aquinas, Allah dialami secara alamiah melalui karya ciptaanNya. Dengan begitu, dalam setiap penciptaan tersedia kemungkinan penyapaan antara Allah dan manusia. Selain itu, karena Allah juga yang menciptakan semua, maka kebenaran tertinggi otomatis ada dan dijamin di dalam Allah. Di sini aku ada karena Allah ada. Descartes lah yang kemudian merubah konfigurasi ini secara radikal. Yakni bahwa setelah semua diragukan, ditemukan bahwa Allah memang masih merupakan dasar (ground) dari segala sesuatu, namun pendasaran ini ditemukan atau merupakan konsekuensi dari penemuan akan kepastian adanya self terlebih dahulu. Akibatnya di dalam Descartes, truth dilihat bukan sebagai sesuatu yang bersumber dan memancar dari kepribadian Allah, melainkan hanya konsekuensi saja dari temuan akan the divine will. Di sini yang terjadi adalah aku berfikir maka aku ada maka Allah ada. Nietzsche kemudian mengubah struktur temuan Descartes ini secara lebih radikal lagi. Apabila the truth merupakan nilai yang muncul sebagai konsekuensi  the divine will, maka the divine will itu sendiri adalah evaluator yang juga bisa dan mesti dievaluasi. Truth dan nilai di sini menjadi setara, akibatnya, Allah tidak dapat lagi diperlakukan bebagai dasar atau ground  dari segala sesuatu. Allah tidak lebih atau sama dengan diriku. Keadaan dan penekanan pada diri dan kehendak dari dari diri inilah yang menjadi ciri utama dari posmodernitas. Di sini, Hemming menegaskan pandangan Nietzsche sebagai landasan utama posmodernitas.

Namun demikian, Hemming juga menyatakan bahwa perayaan akan kematian Allah sebenarnya bukan dimulai oleh Nietzsche melainkan oleh Hegel. Hanya memang, di dalam Hegel, kematian Allah ini lebih dipandang sebagai cara untuk mengukuhkan kristianitas sebagai perwujudan dari the absolute spirit itu sendiri. Di dalam Hegel, Allah sebagai subyek absolut hanya bisa diketahui melalui ‘finite subjectivity’ yakni melalui kehadiran ‘sabda’ dalam rupa daging. Melalui cara ini substansi berubah menjadi subyek, menjadi nyata, sederhana dan universal. Lebih jauh lagi melalui kematian Allah ini, maka Allah justru menjadi  transparent. Di sini kematian Allah justru menjadikan Allah sebagai horison yang menarik manusia ke dalamnya. Dengan kata lain, kematian Allah di dalam Hegel justru malah mengukuhkan kristianitas sebagai agama tertinggi.

Sementara Nietzsche, menegaskan bahwa tidak ada alasan untuk berkesimpulan bahwa kristianitas adalah perwujudan agama tertinggi. Subyektivisasi Allah –di dalam Kristus- telah mempersamakan ‘aku’ dengan Allah oleh karenanya aku sendiri pun bisa menggantikan Allah. Lebih jauh lagi dengan subyektivisasi itu maka Allah sudah bukan lagi nilai yang tertinggi, dan karena Allah sudah bukan lagi nilai tertinggi maka Allah juga bukan horison yang menarik manusia. Inilah yang ditegaskan dalam terminologi posmodernisme dalam bentuknya yang lebih radikal.

Dengan penelusuran pemahaman semacam itu, maka Hemming menegaskan pentingnya menyadari bahaya besar di dalam posmodernisme. Habermas mengatakan bahwa salah satu kelemahan posmodernitas adalah ketiadaan fundamen filosofis yang memadai. Bagi Hemming kelemahan ini juga berarti kelemahan secara etis, bahwa posmodernisme sekaligus juga merupakan pandangan dangkal, penuh simplifikasi. Dengan kekosongan fundamen ini maka posmodernisme telah mendegradasikan substansi sebagai semata-mata utilitas. 

Di sini yang menarik dari artikel Hemming ini adalah pada saat kritik kristianitas atas posmodernitas dilancarkan, Hemming sempat mengutip dan menyandarkan kritiknya pada argumen Slavoj Zizek mengenai ‘diri’ dalam posmodernitas. Menarik, karena sebagaimana diketahui Zizek adalah seorang Lacanian Marxist, sehingga muncul pertanyaan, sejauh mana Lacanian-Marxist bisa berdamai dengan kristianitas? Di titik ini kita masuk ke bagian kedua dalam tulisan ini.

Sebagaimana kita ketahui, psikoanalisa adalah salah satu perahu terbaik bila kita hendak berlayar ke arah ateisme. Sementara Marxisme tidak pelak lagi, merupakan penjaga gawang materialisme yang paling tangguh yang menganggap agama sebagai ‘paham tua’ yang membius kesadaran dan tekad ke arah emansipasi sesungguhnya. Bagi Marxisme emansipasi dimulai dan dicapai dari dan hanya di buminya manusia, di keringat dan darah perjuangan kelas buruh: bukan di akhiratnya agama-agama. Dari sini jelas, seorang psikoanalis biasanya sekaligus adalah ateis, sementara seorang Marxis mestinya selalu mau jadi ateis. Yang sudah pasti bagi keduanya: agama adalah ilusi, candu, kesadaran palsu, psikosis, sumber malapetaka.

Adalah Slavoj Zizek, seorang Lacanian-Marxis dari Slovenia dan -yang seperti diakuiya sendiri-  seorang  fighting atheist, memulai hubungan baru antara Marxime-psikoanalisa dengan agama –dalam hal ini kristianitas. Di luar kebiasaan kebanyakan psikoanalis-Marxis, Zizek –tanpa meninggalkan keyakinan ateisnya- menegaskan –bahkan dengan sedikit antusiasime fundamentalis- bahwa kristianitas is worth fighting for! Bahwa kristianitas wajib diperjuangkan guna menghadapi penyakit di dalam masyarakat global-liberal kapitalisme ini. Bagaimana ini mungkin? Sejauh mana Maxis-Lacanian berdamai dengan kristianitas?  Untuk menjawab ini, kita mulai dengan menjelaskan pengertian subyek di dalam Zizek.

Zizekian Subyek : Subyek sebagai The Subject of Lack

Pendirian Zizek mengenai siapa itu Subyek dibangun dengan topangan  yang bersumber dari Idealisme Jerman dan Psikoanalisa. Di sini perhatian utamanya adalah pada kegagalan atau cacat yang inheren dalam tatanan diri manusia. Di dalam Idealisme Jerman kegagalan ini disebut secara eksplisit sebagai ‘kegilaan’ yang tidak mampu diantisipasi dan diperhitungkan namun mendasari cogito dan subyektifitas. Ini yang di dalam Hegel disebut sebagai ‘the night of the world’ yang intinya –dalam interpretasi Zizek- adalah bahwa negativitas merupakan segi yang fundamental  yang juga tidak bisa dihapuskan dalam latar belakang manusia. Dengan ini Zizek mau menekankan bahwa pembentukan subyek selalu melalui dan berada di dalam dialektika oleh karenanya subyek senantiasa terancam disintegrasi. Di dalam subyek selalu ada gap yang membuatnya tidak pernah lengkap atau sukses sebagai subyek. (Ticklish Subject, hlm. 34-41). Subyek selalu mengalami de-substansialisasi.

Di dalam psikoanalisa, aspek mengenai dislokasi subyek ini dibangun lebih jauh pertama-tama melalui konsep Freud mengenai death drive. Dalam rangka menjelasakan fungsi-fungsi psike manusia, Freud menyadari adanya elemen radical non-functional, basis dari segala kedestruktifan dan ekses dari negativitas yang tidak dapat diantisipasi.  (Zizek dan Daly, hlm 61).  Konsep dead drive Freud ini bagi Zizek kurang lebih sama dengan self-relating negatrivity. 

Keadaan ini yang menyebabkan human life is never just life, it is always sustained by an excess of life. Dan excess of life itu bukan lain adalah death drive itu sendiri. Subyek sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi dorongan ini. Ini kemudian mengakibatkan keadaan paradoks yakni bahwa dorongan tersebut kemudian diarahkan kepada ‘object of excess’ tertentu seperti misalnya pengalaman, gaya hidup, pemilikan benda-benda, kenikmatan, seks dsb. Dengan ini maka di dalam subyek selalu terdapat dislokasi yang permanen. 

Oleh Zizek pendirian keterpecahan Subyek ini kemudian dijelaskan secara lebih rinci dengan melibatkan Triad atau registrasi di dalam Lacan  yakni instansi The Real, The Symbolic dan The Imaginary.

The Imaginary, ditandai dengan proses yang disebut dengan tahap cermin. Lacan memperkirakan bahwa tahap ini berlangsung pada usia sekitar  6 bulan. Lacan mengingatkan bahwa pada dasarnya manusia lahir secara prematur dalam artian bahwa mereka tidak dapat dengan segera mengkoordinasikan gerakan dan organ-organ tubuhnya hingga ke usia tertentu. Anak kemudian memehami dan mengatasi fragmentasi tubuh ini dengan identifikasi dirinya melalui cermin –cermin di sini bisa berarti cermin dalam arti harfiah maupun “cermin’ dalam arti sesama dan orang lain di sekitarnya. 

Di titik inilah kemudian anak mengalami sensasi yang luar biasa manakala menatap dan mempelajari tubuh yang bersatu dan koheren. Ini yang dalam pembangunan mental individu  menghasilkan dorongan dan ketertarikan akan koherensi yang permanen atau ego.

Namun demikian, proses stabiliasi secara fiksi ini juga menghasilkan suatu proses yang lain yakni munculnya diskprepansi antara sensasi anak tentang dirinya dengan imaji kemenyeluruhan yang  diperolehnya dari cermin itu. Ketika kemudian ego terbentuk berdasarkan identifikasi ini, maka ego dengan sendirinya mengalamai keretakan, ia terbagi menjadi antara dirinya dengan imaji mengenai dirinya. Keretakan atau keterpisahan ini tinggal selamanya dan selamanya pula manusia kemudian berupaya untuk menyatukan diri yang retak ini. Ego senantias mempertanyakan dan mendambakan ‘wholeness dan unity. 

The Symbolic,  adalah apa yang kita kenal sebagai realitas yang (telah) terbahasakan. Ia merupakan kerangka impersonal yang berlaku di dalam masyarakat, sebuah arena di mana setiap orang mengambil tempat di dalamnya. Setiap orang  -secara terberi- sudah dengan sendirinya “dikutuk” untuk masuk ke dalam the Symbolic bahkan sejak sebelum mereka dilahirkan. Misalnya oleh karena ras, suku, keluarga, kelas, gender dsb. Dalam nuansa yang lebih negatif, dapat dikatakan the Symbolic lebih kurang adalah penjara bagi subyek. Menurut Zizek, the Symbolic ini juga mengambil posisi  dan merepresentasikan diri dalam the other dan the Big Other. The other adalah the imaginary other semua penandaan yang kita pakai untuk menggantikan kehilangan dalam diri itu, sementara the Big Other selalu merujuk kepada the Symbolic entah kepada individu yang dianggap mewakili the Symbolic misalnya polisi, guru ataupun institusinya seperti misalnya hukum dsb.

Lebih jauh menurut Lacan, tatanan the Symbolic ini dipersatukan dan dibina oleh hukum penanda atau chain of signifier. Konsep signifier ini dipetik dari Saussure (1857-1913). Saussure menjelaskan bahwa bahasa dibentuk melalui sistem penandaan yang terdiri dua bagian yakni the signifier dan the signified. Signifier adalah mental image dari bunyi tanda, sementara the signified adalah konsep yang diasosiakan  dengan bunyi tersebut. Dengan mengatakan bahwa Signifiying Chain adalah instansi yang merekatkan dan menyatukan the Symbolic maka ini mengacu pada keseluruhan jaringan dari seluruh signifier yang ada. Menunjuk pada kemungkinan bagaimana satu signifier berhubungan atau digantikan dengan signifier yang lain, misalnya ketika kita mengatakan ‘merah’ maka merah bisa saja digantikan –karena berhubungan- dengan kesebelasan Liverpool, kesebelasan dari Manchester, atau komunis, PKI, berani, malu, panas, terbakar, darah. Sementara setiap kata yang mengganti kata merah itu sendiri kemudian memiliki lagi hubungan atau bisa digantikan dengan signifier yang lain lagi misalnya kata panas, bisa digani dengan demam, sakit atau bahkan dengan kata dingin (sebagai oposisinya).

Dengan menerima Signifiying Chain dalam pemahaman intsansi the Symbolic ini, maka di sini terdapat  dua implikasi yakni pertama bahwa karena tatanan the Symbolic dipersatukan dengan rantai penanda, oleh karenanya kita tidak dapat mengakses realitas apapun tanpa melalui hukum penandaan ini. Dengan kata lain lagi, sebenarnya kita telah semenjak jauh hari dikutuk untuk tidak dapat mengetahui apa dunia atau apa realitas itu tanpa dan hanya bisa mengaksesnya melalui penjara bahasa ini. Kedua, apabila hubungan antara signifier dan signified itu bersifat kontinjen, unstable, maka karakter dari the Symbolic itu sendiripun kontinjen dan unstable, tidak permanen. Dengan kata lain, subyek itu sendiri selalu bersifat ringkih. 

The Real, secara sederhana the Real adalah dunia sebelum ditangkap oleh bahasa atau Arena yang masih belum terbahasakan. Ini adalah wilayah gelap yang tidak dapat diketahui oleh manusia. The Real bukan merupakan bagian dari the Symbolic melainkan justru arena yang menegasikan the Symbolic dan the Imaginary. Ia tidak bisa diinkorporasikan ke dalam the Symbolic. The real menunjuk kepada dimensi keabadian dari lackness sehingga dengan itu ia menempatkan bahwa setiap konstruksi the Symbolic ada sebagai sebuah jawaban historis tertentu yang tak pernah cukup atas the lackness. Setiap bentuk  kehadiran the Symbolic tidak lain adalah upaya untuk menembus batas-batas eksternal the Real. Yang menjadi soal di sini kemudian adalah, apabila pada kenyataanya, subyek telah sedemikian rupa dikutuk untuk tertawan di dalam the Symbolic, apa signifikansi the Real di sini? 

Kekosongan Subyek/ $

Menurut Lacan, ketertawanan kita di dalam the Symbolic mengisyaratkan pula suatu kenyataan bahwa kita atau subyek selalu hendak bergerak ke arah the Real. The Real adalah suatu wilayah –lebih tepat wilayah psikis- yang pada mulanya dinikmati oleh subyek sebagai keadaan tak berkekurangan (pengalaman atau keadaan sebelum subyek terpisah dengan kenikmatan tubuh dan rahim ibu), oleh karenanya tidak ada bahasa di dalamnya, tidak ada kehilangan,  belum ada keterpisahan. Yang ada adalah pemenuhan utuh dan kebersatuan sempurna. Oleh karenanya, the Real tidak akan pernah dapat dimediasi dengan bahasa.  Oleh karenanya lagi, dalam fase kemudian  the Real merupakan suatu kehilangan yang tidak dapat diperoleh kembali ketika subyek mulai masuk ke dalam bahasa atau the Symbolic.1 

Dengan ini menjadi lebih jelas apa hubungan antara subyek the Symbolic dengan the Real, yakni bahwa subyek selalu berada di dalam wilayah perbatasan antara the Symbolic dan the Real. Melalui the Symbolic subyek berupaya memahami, meraih, mengungkapkan  the Real dan masuk kembali kedalam kesatuan namun selalu dan terlempar kembali. Gap abadi antara the Real dengan the Symbolic ini menghasilkan trauma. Subyek hidup dengan menyandang trauma ini.

Dengan penjelasan ini maka the Real bisa dilihat dalam dua posisi yakni pertama sebagai keadaan atau tatanan yang sudah mendahului the Symbolic, atau yang kedua bisa juga dilihat sebagai keadaan yang bertahan atau ekses dari pengungkapan the Symbolic. Di dalam yang kedua ini the Real muncul untuk menandai kegagalan dan kekosongan (void) the Symbolic. The Real hadir baik sebelum maupun sesudah the Symbolic. Oleh karena itu bagi Zizek, the Real sekaligus juga adalah arena dialektika.

Subyek dalam jerat refleksivitas Global liberal-kapitalis.

Sebagaimana Frederic Jameson, Zizek menerima bahwa era masyarakat kontemporer ini adalah era posmoderen. Di sini Zizek menggunakan argumen Giddens dan Ulrich Beck  mengenai ciri umum dari posmoderen yakni mencuatnya ‘risk society’ atau ‘masyarakat penuh resiko’. Resiko di sini mengacu pada suatu pemahaman mengenai kondisi ‘low probability-high consequence’. Kondisi ini bisa dilihat dari pelbagai dilema seperti meningkatnya emisi karbon yang mengakibatkan pemanasan global; polusi kecil pada makanan karena oestrogen artifisial menghasilkan dampan yang luar biasa pada sterilasi populasi laki-laki.  

Lebih dari itu, yang menjadi persoalan utama di sini adalah bahwa resiko di dalam ‘the risk society’ itu lebih merupakan sebuah ‘manufactured risks’ yakni bahwa mereka adalah produk bikinan manusia sendiri. 

Lebih jauh lagi, resiko di sini berlanjut pada kenyataan bahwa oleh karena kita sudah tidak mengijinkan dan memberikan alam suatu kesempatan untuk memperbaiki dirinya demi kemaslahatan manusia sendiri. Akibatnya adalah upaya mengatasi resiko ini selalu dilakukan melalui intervensi teknologi, yang pada gilirannya kemudian kembali menghasilkan resiko dan jeratan baru bagi kita. Dengan begitu, kita sebenarnya disandera dalam sebuah lubang refleksivitas-diri di mana penghancuran yang efektif atas sebuah resiko menghasilkan generasi baru dari resiko. Dengan kata lain, kita sekarang hidup dalam dunia yang sepenuhnya subyektif, di mana baik pertanyaan maupun jawaban atas seluruh pertanyaan kita ternyata kembali kepada pangkuan kita lagi, kita hidup tanpa basis yang substansial.

Desintegrasi dari the Big Other

Wabah refleksitas ini yang pada akhirnya menghasilkan kelumpuhan the Big Other (negara, jaringan komunal dari institiusi sosial, pemerintah, hukum formal dsb). Desintegrasi  dari the big Other ini diibaratkan Zizek dengan komentar Lacan atas Tuhan yakni bahwa ‘Tuhan sudah Mati, dan selalu Mati namun Tuhan tidak tahu kalau Dia sudah mati”. Jadi negara, pemerintahan sebenarnya sudah mati hanya persoalannya mereka tidak tahu kalau mereka sudah mati! 

Dengan kematian ini akibatnya kita hidup dalam sebuah situasi yang minim idealisasi, tanpa rujukan atau dalam istilah Zizek disebut sebagai pendangkalan dari Symbolic Efficiency2. Akibatnya lagi kita hidup dengan ‘budaya seolah-olah’ ; kita selalu mendapatkan lebih dari segala apa yang kita bayar tapi toh kita bingung untuk mengunakannya dalam keperluan apa? 

Apa akibat dari kehancuran Symbolic Efficiency dalam sudut pandang Lacanian Zizek?

Dengan kelumpuhan the Big Other maka subyek tidak lagi tunduk di bawah hukum-hukum alamiah dan tradisi, subyek menjadi subyek yang memilih (subjects of choice). Kita sepenuhnya bebas untuk melalukan apa yang kita mau. Namun demikian subyek dalam kebebasan memilih di sini sama sekali bukan berarti subyek yang otonom yang melesat tanpa meninggalkan bahaya apapun. Zizek mengatakan bahwa salah satu persoalan utama dari keadaan refleksitas dan kelumpuhan the Big Other ini adalah menguatnya gejala Subjetion atau katakanlah semacam narsistik pasif destruktif. Manakala subyek kehilangan pegangan dari ‘hukum dari the Big Other’, maka subyek menyusun mekanisme penyeimbang yakni dengan membangun ‘semacam hukum-hukum privat’ yang mengarah kepada relasi dominasi subyeksi itu tadi. Gejala meluasnya sado-masochisme merupakan bukti dari seluruh fenomena ini, di sini subyek menurunkan kepuasan libidisnya secara bebas tapi dengan sekaligus menjadikan dirinya semacam budak dari tuan tertentu. Dengan kata lain di sini subyek di dalam posmodern adalah subyek dengan tanda ENJOY ! (perpaduan antara jouissance dan perintah/master). Kebebasan yang diperoleh dengan hancurnya the Big Other dinikmati sebagai beban yang termanifestasi dalam kerinduan akan disiplin.

Perluasan dari gejala ini adalah terjadinya pembalikan dari super ego Kantian yang secara normal biasanya dirumuskan dengan hukum “Kamu Harus!” yakni “Kamu kan harus makanya Kamu bisa ! menjadi super ego posmodern yang berbunyi Kamu kan bisa makanya Kamu harus! 

Contoh paling jelas dari gejala ini adalah Viagra. Viagra menurut Zizek adalah bentuk kimiawi dari super ego. Bukan super ego dalam artian Kantian di atas, tapi super ego baru yang dibentuk oleh kapitalisme posmodern. Viagra membuat manusia mampu melampaui batas dari apa yang seharusnya dan menghapuskan halangan apapun untuk menikmati  jouissance. Viagra mencerminkan transformasi batas-batas dalam moralitas yang lama. Di dalam Viagra hukum yang semula berlaku Kamu Harus maka Kamu bisa diubah menjadi Kamu bisa maka kamu harus. (The Fragile Absolute, 133)

Gejala lain yang diakibatkan lumpuhnya the big Other ini adalah meluasnya paranoia. Ini bisa dilihat dari gejala banjirnya berbagai tayangan terutama misalnya filem-filem jaman sekarang yang  dianggap kurang lengkap, kurang seru dan makin merasa kurang dahsyat apabila tidak menyertakan figur-figur penuh rahasia seperti  military-industrial complex, agen rahasia asing, Alien-monster yang mengintai dari pesawat angkasa yang diparkir di langit.  Muncul fantasi akan adanya sejenis kekuatan yang secara rahasia melakukan pekerjaan kontrol dari pemerintah. Ini yang disebut Zizek bahwa kehilangan akan the Big Other membuat subyek mengkreasi the Other of the Other (mata-mata, organisasi rahasia, bahwa Elvis masih hidup dsb). Ini yang disebut dalam diktum Lacan bahwa manakala “the Symbolic Efficiency di tahan-tahan maka the Imaginary jatuh menjadi the Real”. (TTS: 374)

Pada Mulanya adalah Kata (sabda)…kata itu menjadi Manusia: Kembali ke Subyek. 

Pertanyaan yang kemudian menjadi penting di sini adalah, sejauh mana subyek bisa mengatasi masalah ini. Apakah ada peluang bagi subyek untuk membebaskan dirinya? Bagaimana ini dilakukan? Untuk menjawab ini Zizek mengajukan jalan keluar yang sedikit lebih rumit.  Di sini ia memperkenalkan kepada kita konsep tindakan yang ditekankannya sebagai upaya secara terus menerus untuk mencapai apa yang sebut sebagai ‘kelahiran kembali’ (re-birth). Tindakan di sini  bisa juga diartikan sebagai tindakan untuk mengatasi atau bahkan membunuh tatatnan the Symbolic yang ada itu secara simultan. Bagaimana ini dilakukan dan bagaimana ini mungkin? 

Di sini Zizek melihat peluang justru kembali di dalam gap antara the Real dan the Symbolic yakni di dalam proses apa yang disebutnya dengan subyektivikasi. 

Dengan melihat hubungan the Real dan the Symbolic jelas bahwa subyek didirikan dengan dasar kehilangan yang permanen, yang dicampakan dari kemenyeluruhannya. Subyek di sini selamanya adalah subyek yang nostalgik, yang selamanya mencoba untuk memulihkan kembali rasa hilang itu secara sia-sia. Sialnya keadaan ini, harus tetap demikian, kehilangan itu harus tetap menjadi kehilangan demi agar supaya subyek tetap menjadi subyek. Subyek, dengan kata lain, mesti menghadapi eksternalisasi untuk tetap bertahan sebagai subyek. Tempat di mana subyek berada selamanya dalam eksternalisasi itu adalah the Symbolic: pada sang bahasa atau sang kata-kata. Inilah yang oleh Zizek disebut dengan subyektivisasi. Persis sebagaimana pernah dikatakan pada tempat lain bahwa..”pada mulanya adalah kata (sabda)..dan kata (sabda) itu menjadi manusia…….’Pada penjelasan mengenai subyektivisasi inilah Zizek kemudian membawa kita ke kristianitas.

Namun demikian, sebelum masuk ke penjelasan mengenai kristianitas. Perlu ditekankan di sini bahwa konsep subyektivisasi Zizek ini harus dibedakan dengan konsep subyek di dalam pos-strukturalisme yang melihat subyek benar-benar jatuh terlentang dan mampus dihadapan struktur dan sistem simbolik di luar dirinya. Menurut Zizek, extimacy memberikan kita peluang dan kemungkinan karena di dalamnya diandaikan berlangsungnya dua proses. Di satu sisi the Symbolic (atau the big Other yaitu individu atau jabatan-jabatan yang berfungsi sebagai perwakilan the Symbolic dalam kehidupan  misalnya tramtib, hansip, FPI, RUU Porno Aksi dsb) memang hadir dan membatasi kita. Atau misalnya lagi, kita boleh saja lahir di keluarga dengan marga, kelas dan ras. Namun toh, di sisi yang lain, karena the Symbolic itu sendiri juga senantiasa tidak lengkap maka cara bagaimana kita mengintegrasikan elemen-elemen the Symbolic itu serta menceritakannya –atau techne of the self (?) di dalam Foucault- adalah bergantung pada kita sendiri. Misalnya meskipun kita lahir dari keluarga sekuler yang sangat ateistis kita bisa memutuskan pindah untuk misalnya menjadi pengikut Ahmmadyah .3

Artinya di sini, solusi  dalam berhadapan dengan penjara kehidupan dalam reflektivitas, serta dalam rangka menghadapi himpitan ketegangan the Symbolic dengan the Real, juga dalam rangka mengatasi keterpukulan manakala berhadapan lagi dengan kekosongan di dalam the Symbolyc, hanya bisa dilakukan dengan mensyaratkan penerimaan yang penuh akan kenyataan ‘keterpenjaraan’ itu. Baru dari situ dan di dalam situ subyek harus bertindak membebaskan dirinya.

Tindakan pembebasan ini bisa dilihat misalnya di dalam contoh yang ada di dalam berbagai filem-filem komersial. Di dalam gestur yang radikal misalnya, tindakan itu bisa kita lihat dalam diri sang Hero di filem Speed. Di mana pada saat berhadap-hadapan dengan teroris yang menyandera partnernya dengan pucuk senjata, sang pahlawan bukan malah menembak si teroris, tapi malah kaki partnernya. Tindakan tanpa perasaan ini yang pada akhirnya membebaskan sang partner dan mengalahkan sang teroris.  Dari filem yang lain misalnya dalam Ransom (Mel Gibson), ketika sang konglomerat media harus siaran di TV untuk bersedia membayar tebusan 2 Juta US $ atas permintaan si penculik agar nyawa anaknya selamat, sang konglomerat bertindak secara mengejutkan yakni malah mengumumkan bahwa 2 Juta US $ akan ia berikan bagi siapa saja yang memberikan dia informasi mengenai penculikan anaknya dan bahwa ia kan mengejar si penculik sampai ke ujung dunia. 

Pembalikan dari tindakan ini tidak hanya mengejutkan si penculik (the Symbolic) tapi juga mengejutkan si konglomerat sendiri manakala ia sadar akan resiko yang mesti dihadapi kemudian. Namun demikian di sini dalam keadaan keterkungkungan dan tekanan, subyek mengambil keputusan yang “gila”, yang sebelumnya seperti tidak mungkin namun  justru menjadi mungkin setelah tindakan itu dilakukan. Jadi di sini tindakan mendahului peluang.

Tindakan di sini tentu jauh dari sekadar agresifitas impoten yang ditujukan pada diri sendiri, melainkan dilakukan dalam tujuan mengubah koordinat situasi di dalam mana akhirnya subyek bisa menemukan dirinya. Dengan memutuskan dirinya dari –dalam bahasa Buddhisme- kemelekatan terhadap obyek (sang partner/anak yang diculik, uang 2 Juta $) di mana di dalamnya sang musuh bisa mengendalikannya, subyek menemukan ruang untuk bertindak bebas. 

Dan pada akhirnya, tidak ada contoh yang lebih radikal yang diajukan oleh Zizek dari contoh yang juga paling radikal dari apa yang dikerjakan oleh ALLAH sendiri. Sebuah madness divinity, manakala ia mengutus untuk kemudian ‘menyalibkan’ Kristus putranya sendiri (Fragile Absolute, hlm. 149-158).

Menurut Zizek, peristiwa penyaliban Kristus tidak boleh dipandang hanya sebatas tragedi, karena di dalamya diperlihatkan dengan jelas tragedi sekaligus perayaan penemuan subyek ini. Di dalam Kristus, Allah menyatakan dirinya dengan pertama-tama menghancurkan divinitasnya yakni dengan melepaskan apa yang menjadi bagian dirinya ‘ke luar’ menjadi “daging”. (On Believe, hlm. 145) Subyek mengukuhkan dirinya justru dengan cara menghilangkan atau menegasikan dirinya. Dengan ini subyektivikasi sekaligus juga berarti sebagai extimacy (external intimacy). Sementara dengan penyaliban, Allah sekali lagi –memusnahkan diriNya –tubuhNya yang lama- demi kehadiran figur baru yakni holy spirit.  Di sini Allah telah bertindak persis sebagaimana dulu yang ia cobakan kepada Abraham. Yang jelas, yang terpenting di sini adalah situasi-situasi atau tubuh yang lama  tidak lain di sini hanyalah sebuah ‘vanishing mediator’. Yang harus kita tinggalkan untuk menemukan “tubuh” yang baru terus menerus. Di titik inilah menurut Zizek, Kristianitas memberikan i nspirasi yang besar, yakni memberikan gambaran dan cerita konkret mengenai makna tindakan dan kelahiran kembali yang terus menerus.

Ultimately, the “rebirth” of which Christianity speaks (when one joins the community of believers, one is borne again) is the name for such a new Begining….Christianity enjoins us to REPEAT the founding gesture of the primordial choice (the Real). One is almost tempted to put it in the terms of the paraphrase of Marx “thesis 11”: Philsophers have been teaching us only how to discover our true Self, but the point is to change it.” And THIS Christian legacy, often obfuscated, is today more precious than ever.

(On Believe, hlm 148-149)

Penutup

Zizek jelas bukan seperti Hemming yang menulis kritik terhadap posmodernitas atas dasar kepentingan melindungi iman. Zizek adalah seorang ateis yang justru menggunakan cerita iman untuk menghadapi posmodernitas.  Di sini ada dua hal yang perlu disampaikan, pertama adalah bahwa di dalam Zizek, psikoanalisa dan Marxisme tidak serta merta dijadikan landasan atau pengandaian teoritis untuk menolak Allah bahkan agama. Sebagaimana Marx, Zizek lebih menggunakan ‘marxisme’ dalam berkonfrontasi dengan persoalan yang  fundamental yakni persoaloan sosial dalam masyarakat kapitalis kontemporer. 

Lebih jauh lagi, melalui Lacan dan Marx Zizek melihat bahwa kondisi-kondisi masyarakat global-liberal-kapitalis telah berupaya untuk sama sekali menutup peluang bagi subyek untuk menemukan kebebasannya. Dari sini Zizek melihat bahwa perubahan ke arah kebebasan itu tidak dapat ditemukan sendiri baik oleh psikoanalisa maupun Marxisme. Di titik ini Zizek malah menganjurkan untuk mempertahankan kebudayaan kristianitas. Namun kristianitas di sini tentu saja kristianitas dalam pengertian kultur bukan kredo.

Lebih jauh lagi, yang terpenting dari uraian Zizek adalah pada sikap paradoksnya mengenai subyek. Di satu sisi ia melihat bahwa tatanan the symbolic dalam global-liberal-kapitalis telah sebegitu rupa mengurung subyek, namun demikian toh ia tetap menganjurkan untuk melanjutkan kemungkinan dan inistif tindakan terbaik dalam kungkungan the symbolic itu. Manusia bisa memerdekaan dirinya dengan melampaui the present symbolic order, meski setelah itu ia juga mesti kecewa karena ternyata kemenangan dari suatu the symbolic order hanya akan membawa dia ke the symbolic yang lain. Di dalam Zizek diakui adanya hukum penindasan tapi penindasan di sini relatif, sebagaimana diakui juga adanya kemerdekaan dan emansipasi yang juga bersifat relatif. Subyek tertawan bukan dalam suatu kepastian akan keterkungkungan atau kemerdekaan, subyek tertawan dalam kemungkinan kebebasan dan penindasan, terus menerus.

Di dalam ketegangan ini, salah satu pandangan yang berharga dari Zizek adalah pendapatnya soal makan tindakan. Di dalam Zizek tindakan bukan datang dari kesempatan dan peluang, justru tindakanlah yang membuka peluang. Tindakan mendahului kesempatan. Di sini Zizek,  terpengaruh oleh pragmatisme Marx, namun dalam segi tertentu ia melampaui Marx. di dalam Marx, tindakan memang diprioritaskan, namun toh, Marx masih membutuhkan penjelasan mengenai ideologi sebagai penuntun  yang mendahului tindakan. Di dalam Zizek pragmatisme atau prioritas kepada tindakan ini, muncul tanpa prasyarat. Ini sejalan dengan pandangannya mengenai ideologi, yaitu bahwa ideologi tidak dapat lagi dilihat dalam operasi gagasan, ideologi adalah tindakan.

Pustaka

Hemming, Laurence Paul, (2001), More Than Just A Ticklish Subject: History, Posmodernity and God, Hey JXLII, (Oxford, UK and Boston: Blackwell) pp. 192-204. 

Myers, Tony,  (2003), Slavoj Zizek (London and New York: Routledge)

Zizek, Slavoj,(2000), The Ticklish Subject: the Absent Centre of Political Ontology, (London:Verso).

—————–, (2000), The Fragile Absolute – or, Why is the Christian Legacy Worth Fighting for?, (London, New York: Verso).

—————–, (2001), On Belief (London and New York: Routledge)

Zizek dan Daly,  (2004), Conversations with Zizek (Cambridge: Polity Press)

Foto Slavoj Zizek oleh Andy Miah di Flickr.

Catatan kaki

  1. Salah satu contoh mengenai hubungan the Symbolic dan the Real ini adalah dalam trauma. Zizek menyebutkan suatu kasus yang pernah ditangani Freud  yakni kasus ‘manusia serigala’ yakni tenang seorang dengan gejala neurose ‘takut dimakan serigala’. Dalam pemeriksaan Freud neurose ini diakibatkan oleh suatu peristiwa yang pada mulanya tidak berarti apapun namun pada usia kemudian yakni empat tahunan menjadi traumatik. Dalam kasus manusia serigala ini, si pasien pada usia satu tahunan menyaksikan hubungan badan kedua orangtuanya, pada masa itu ia sama sekali belum bisa memahami apa yang sedang terjadi itu, inilah masa the Real itu. Baru tiga tahun kemudian, setelah ia mampu membangun semacam teori sederhana mengenai hubungan suami-istri yang kemudian memungkinkannya melakukan interpretasi atas apa yang dulu pernah disaksikannya. Di titik ini, titik the Symbolic, sang bocah menjadi traumatik dan membangun semacam phobia terhadap serigala. Yang penting dijelaskan di sini adalah kenyatan bahwa the Real di sini selalu tetap dan tidak bergeser sementara the Symbolic mengubah makna dan peristiwa-peristiwa. (Zizek dikutip dari Myers, hlm 27)
  2. Symbolyc efieciency adalah the Symbolic yang bertugas menjadi patokan dan memberikan status serta identitas bagi subyek. Ia berfungsi memverifikasi segala hal untuk kemudian diatur, dilekatkan pada subyek misalnya ntuk seorang pasien rumah sakit jiwa, soal waras tidaknya si korban akan ditentukan oleh sistem registrasinya di hadapan sang dokter atau the Big Other, di sini the Big Other berfungsi sebagai Symbolic Efficiency.
  3. Pada bagian ini apabila diteruskan, nantinya dari Hegel dan Lacan, Zizek akan terus dan merayakan Cogito Descartes. Di sini sebagaimana kebanyakan filsafat modern Zizek  juga menerima cogito sebagai basis dari subyek. Hanya bedanya, apabila di dalam filsafat modern yan lain, cogito ini dibaca sebagai substansi yang utuh, otonom, transparan dan penuh kesadaran, di dalam Zizek Cogito itu diterima tapi sebagai cogito yang kosong. Dan adalah the Symbolic Order yang bergerak beroperasi menggantikan kekosongan itu serta mengisi void di dalam subyek itu dengan proses subyektivikasi.
Bagikan:

Tinggalkan Balasan