Beberapa kasus amuk masa dan kerusuhan terakhir di pelbagai daerah menunjukkan semakin kuatnya budaya kekerasan sebagai sarana untuk menyelesaikan masalah. Logika yang terbangun bersandar pada satu keyakinan bahwa senjata kekuatan, dan kekerasan merupakan alat efektif dalam menegakkan superioritas individual maupun kelompok.

Semakin lama fenomena-fenomena seperti ini semakin menjadi satu kebiasaan yang rutin bisa kita saksikan sehari-hari. Jika hal ini terus berlanjut, maka bisa dipastikan kekerasan menjadi budaya baru yang akan semakin membatu dalam struktur sosial masyarakat kita.

Salah satu akar penyebab yang bisa ditelisik secara saksama adalah semakin kaburnya makna identitas. Bisa dikatakan bahwa semua kekerasan dan irasionalitas manusia dibentuk dan digerakkan oleh makna identitasnya. Dalam hal ini identitas individual maupun komunal. Identitas individual bersifat pribadi, terjadi pada setiap orang. Identitas komunal merupakan kumpulan identitas-identitas dalam lingkup komunitas yang semakin luas. Mengutip Lacan, kaburnya identitas ini, -saya menyebutnya identitas terbelah– terjadi karena ketidaklengkapan manusia dalam menyempurnakan kepribadiannya. Model dari tulisan ini berusaha untuk memotret fenomena yang terjadi dalam lingkup kongkrit keseharian. Hemat penulis dengan mempergunakan analisa dan Lacan, fenomena identitas yang terbelah menjadi jauh lebih menantang dan jelas jika kita coba cari akar penyebab dan perilaku personal yang menjadi pembentuk identitas individual maupun identitas komunal.

IDENTITAS Individual dan Komunal

Sebagai individual, identitas ini berwujud pada hilangnya ikatan perasaan sebagai saudara yang harus saling menjaga, menolong dan bahu-membahu dalam kebersamaan. Identitas individual ini bersifat personal artinya tumbuh dalam perkembangan kesadaran individual. Dalam identitas individual yang terbelah, muncul agresi yang bersifat massif dan naluri yang bersifat destruktif. Kekerasan dalam rumah tangga, kekejaman orang tua terhadap anaknya seolah hendak menyampaikan satu pesan, bahwa pihak yang berkuasa berhak untuk mempertahankan superioritas individualnya dengan cara menyakiti pihak yang lain. Identitas individual yang terbelah ini mengabaikan rasionalitas dan menafikan batasan-batasan moralitas.

Sebagai komunal, identitas ini berupa terkikisnya semangat kebersamaan yang mengerucut pada semangat kebangsaan, sebagai kesatuan warga negara. Tawuran antar warga, kerusuhan etnis dan politik sampai separatisme merupakan salah satu bentuk identitas yang terbelah secara komunal. Identitas komunal ini menyebabkan sikap apatisme dalam ikut memikirkan nasib bangsa yang berujung pada sikap inferioritas dan perasaan malu sebagai warga negara.

SUBVERSI Lacanian

Lacan berusaha untuk membalik pemahaman konservatif Freudian tentang rasionalitas Freudian. Proyek besar Freud berangkat pada kekecewaannya atas kegagalan teori-teori psikologi dalam memahami manusia secara utuh. Manusia yang dipahami secara mekanistik, positivistik Cartesian yang digerakkan dengan sistem penanda yang telah ada dengan sendirinya. Menurut Freud, tahapan pertama dalam memahami manusia harus berdasarkan keyakinan bahwa ada energi psikis sekaligus energi naluriah berupa hasrat libido. Satu bentuk rasa sekaligus realitas bawah sadar berupa hasrat yang berkaitan dengan unsur-unsur seksualitas.

Psikoanalisa Freud melihat bahwa munculnya hasrat lahir sejak bayi dilahirkan. Ketika sang bayi keluar dari rahim ibunya dan ketika secara naluriah instingnya mengatakan bahwa dininya merupakan bagian tak terpisahkan dari vagina ibunya maka dan sini sang bayi mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari diri ibunya. Prinsip-prinsip imajinatif antara sang bayi dengan ibunya menemukan bentuk ketika sang bayi mulai menghasrati aktivitas-aktivitas bersama ibunya. Minum air susu (menyedot puting payudara ibu), menghisap jari-jarinya sendiri sampai buang air kecil/besar (dengan menahan atau memperlambat pengeluarannya) merupakan aktivitas-aktivitas dalam mengenali hasratnya. Ada perasaan nikmat dan menyenangkan ketika sang bayi mulai berkenalan dengan zona-zona endrogen dari dirinya sendiri maupun din sang ibu (tahap oral dan anal).

Bagi Freud, pengalaman seksual dan kepuasan seksual merupakan kunci kebahagiaan dan keseimbangan emosional. Pengalaman yang terkait dengan prinsip- prinsip kenikmatan. Prinsip kenikmatan berupa dorongan untuk bisa mendapatkan harapannya. Bersifat implusif, primitif, dan tak beraturan serta terkait dengan ketidaksadaran dan bayi yang masih dalam apingan ibunya bergerak dalam prinsip kenikmatan ini. Tetapi kemudian bagi Freud kenikmatan-kenikmatan yang terkait dengan permainan di sekitar zona-zona endrogen harus terlepas ketika sang bayi beranjak da bisa mencema realitas. Orang yang sudah memasuki fase phallic (usia 3-5 tahun) mulai menyesuaikan diri dengan realitas norma dan ego yang telah ditanamkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Lacan berusaha untuk meneruskan proyek dan psikoanalisa Freud. Bagi Lacan, pemikiran Freud yang masih relevan untuk dipertahankan dalam kajian psikonalisa kontemporer dalam posisi di mana hasrat diposisikan sebagai energi yang menelikung kesadaran manusia. Hasrat yang bergerak dalam tataran imajinatif yang kemudian harus diselaraskan dengan realitas yang ada. Pembacaan kritis Lacan terhadap Freud terletak pada bagaimana pemahaman bahwa keterpisahan antara ibu dan bayi -yang kemudian dianggap memisahkan kebertetautan antara keduanya tidak hanya diakibatkan oleh proses yang bekerja di alam bawah sadar, tidak hanya norma dan ego mengambil alih kuasa bayi terhadap ibunya semata, tetapi keberpisahan itu berbentuk pada pengidentifikasian sekaligus proyeksi sang anak dalam melihat bayangan dirinya sendiri dalam fase cermin.

Sang anak melihat dirinya dan kemudian mengidentifikasikan sekaligus memproyeksikan keinginan-keinginannya di masa yang akan datang. Dalam konteks inilah, Lacan bagi sebagian ahli dianggap telah keluar dan ajaran Freud. Karena bagi Freud, irasionalitas manusia tidak terjadi dalam fase-fase perkembangan psikoanalisa, tetapi berada dalam tataran bahwa memang manusia bersifat deterministik. Makhluk seksual yang digerakkan libido seksualnya. Psikoanalisa Lacanian mengatakan bahwa pembentukan identitas berada dalam kegagalan menambal lubang-lubang menganga dalam setiap peralihan fase-fase hidup manusia individual.

HASRAT dan pembentukan diri

Dalam psikonalisa Freud, hasrat harus terbentur pada kehendak ego dan disesuaikan dengan norma yang berlaku. Ironis memang jika kemudian pemahaman tentang hasrat hanya berupa sublimasi-sublimasi etis dan pengarahan untuk selalu sesuai dengan realitas. Padahal di satu sisi, Freud juga mengakui bahwa meski represi ego menelikung pergerakan hasrat, memunculkan permainan hasrat, dikenal dengan polymorphism of desire.

Ketika represi hasrat berjalan, maka deviasi sekaligus sublimasi hasrat muncul. Ketika aturan semakin ketat maka alternatif mensiasati aturan itu semakin dicari dan dilakukan. Ketika aturan semakin ketat maka aktivitas perlawanan muncul. la selalu mencari bentuk baru dan penuh dengan kreatifitas-kreatifitas yang mengejutkan.

Dengan mengikuti Lacan, dimensi ego sebagai pengawal hasrat merupakan sebuah kemuskilan. Lacan membalik ego menjadi satu hal yang tergantung pada realitas sosial dan hasrat. Tahap imajiner berupa tahapan primitif, tak terbahasakan dan berjalan dalam prinsip pra-bahasa yang belum mengenal individuasi dan diferensiasi kebahasaan. Tahap ini bekerja dalam ketidaksadaran. Bayi tidak akan bisa memahami dirinya sendiri secara utuh dan dependen tanpa persentuhan aktif dengan ibunya. Ibunyalah yang membentuk sang bayi, dan dan kedekatan aktivitas ini bayi merasa mengidentikkan dirinya sebagai sesuatu omamen integral sang ibu. Aktivitas-aktivitas minum susu, mengemut jari, menangis dan buang air merupakan media untuk mendekatkan diri sang bayi terhadap ibunya. Posisi deteministik yang mengantar bayi pada fase selanjutnya, fase cermin.

Tahap cermin muncul ketika individu melihat bayangan yang muncul dalam cermin. Tahap ini merupakan bentuk kesalahpahaman anak dalam mengidentifikasi dirinya sendiri. Bayangan yang ada di dalam cemin dianggap sebagai dirinya, sehingga semua proyeksi yang dimunculkan oleh sang anak disesuaikan dengan gambaran- gambaran dirinya. Pasca keterpisahan antara bayi dengan anaknya, si anak mencari siapa dirinya sesungguhnya, kemudian keterjebakan anak dalam mempersepsi dininya sendiri tertetak pada idealisasi dimya dengan diri yang lain.

Ia melihat bahwa Superman merupakan tokoh idealnya, ia mengandaikan dirinya sebagaimana diri Superman. Dalam bayangannya idealisasi Superman berbentuk pada ego dan hasrat untuk selalu ingin diperhatikan. Bayangan Superman hanya bayangan dari kecenderungan untuk mengidentifikasikan diri dengan yang ideal.

Dan terakhir berupa tahapan simbolis, tahap di mana anak telah menyadari kesalahpahamannya dalam tahap cermin, kemudian proyeksi-proyeksi dirinya selama ini disesuaikan dengan struktur kebahasaan yang muncul seiring dengan pemahaman anak terhadap lingkungan kesehariaannya. Ada aturan, ada norma dan ada kekangan. Apalagi hasrat kemudian disesuaikan dengan ketakutannya sekaligus penghormatan terhadap diri ayah secara imajinatif dan simbolik. Ketika anak tahu bahwa jika selama fase imajiner dan tahap cermin idealisasi terbentur pada konsep-konsep yang ibu lakukan (fase imajiner) dan hasrat untuk memahami sekaligus mengidealkan diri sendiri (cermin), maka kemunculan sang ayah sebagai bagian yang tak terpisahkan antara dirinya dengan ibunya memecah konsentrasi untuk terus mendekati struktur-struktur yang ibu tanamkan. Kehadiran dan kuasa ayah dalam memperlakukan ibunya kemudian memaksa anak untuk mencari idealisasi dirinya selama ini yang terus mengalami kegagalan.

Di satu sisi kemudian proyeksi mengidealisasikan diri gagal karena struktur kesadaran anak telah terstruktur pada kuasa sang ayah (in the name of father), tetapi di sisi yang lain seiring dengan struktur kebahasaan yang sudah dikenal oleh sang anak menjadikan dirinya sebagai penanda bagi dominasi ayah. Di sinilah hasrat menemukan tempatnya karena muncul alienasi dini. Alienasi diri menjadi salah satu pembentuk dasar bagi identitas. Anak akan berusaha untuk memisahkan din dengan kenyataan yang ada, bahwa hukum ayah adalah puncak realitas yang merebut dominasi sang ibu. Hukum ayah telah memberikan aturan tentang yang boleh dan yang tidak boleh, yang baik dan yang tidak baik, sistem pengatur nilai yang melulu berusaha merepresi perkembangan si anak sampai kapanpun juga.

HASRAT dan identitas

Hasrat Lacanian berupa kondisi menghasrati dirinya dan menghasrati sosok yang Lain. Dengan menghasrati diri dan orang lain, ego kemudian diselaraskan dengan hasrat. Pembacaan Lacan berguna ketika manusia selalu dipahami dengan pendekatan dalam tataran yang simplistik, animal sexalicum. Bagi Lacan, pemahaman hasrat ini beranjak dan subjek yang memiliki hasrat, tetapi ketika menghasrati yang lain subjek ini berubah menjadi objek bagi yang lain (mirip dengan konsep saling mengobjektifikasi cinta dan persetubuhan ala Sartre-ian yang melihat bahwa menghasrati yang lain pada intinya merupakan bentuk pertempuran eksitensial).

Bagi Lacan dimensi kesadaran sekaligus manifestasi akan permainan hasrat merupakan bentuk pelepasan pesona dini yang selalu tertelikung aturan legal formal. Jika dalam perkembangan selanjutnya permainan hasrat lebih disesuaikan dengan ranah etis dan norma yang berlaku (Freud). Lacan mengidentifikasi sesuatu yang tumbuh diluar pengalaman manusia sebagai satu hal yang tak terbahasakan. Bermain dalam tataran kesadaran berupa kecemasan, harapan sekaligus ketakutan. Lacan menyebutnya sebagai sesuatu yang nyata (the Real). The Real ini yang menuntun manusia untuk terus mencari altematif sekaligus pelepasan dan simbolisasi diri (pada fase imajiner dan cermin). The Real memaksa kesadaran dan mendobrak kesadaran sendiri dan the Real ini menuntun manusia untuk memahami fenomena-fenomena kesadaran yang sangat individual, profan dan imaterial termasuk di dalamnya momen jatuh cinta, keterasingan, sakit hati, penyesalan dan kebahagiaan.

The real bagi saya adalah makna asali dari identitas. Ketidakmampuan subjek dalam memahami dirinya, berlubangnya proses perpindahan dan fase-fase dalam perkembangan jiwa Lacanian menyebabkan identitas tidak sempurna. Ketidaksempurnaan identitas muncul dengan ditandakan selalu berusaha untuk meniru (mimises) yang lain. Yang lain dianggap sebagai sosok ideal, dan aku adalah sosok yang berkekurangan. Dengan berusaha untuk meniru yang lain, diri individu merasa seolah- olah kesempurnaan sedang dalam proses pembentukan.

Proses pembentukan identitas yang tidak sempurna yang kemudian menyebabkan identitas menjadi terbelah juga pada akhirnya menyebabkan manusia selalu tidak akan mendapatkan kedewasaan yang sempurna. Ketidakdewasaan yang tidak sempurna ini biasanya muncul dalam aktivitas kekerasan, karena kekerasan yang muncul merupakan reaksi diri identitas yang masif. Battaile memprovokasi manusia untuk melakukan kekerasan dan untuk melakukan pelanggaran terhadap tabu, karena baginya “dalam keheningan kekerasan muncul seribu bahasa.

PENUTUP

Rekan-rekan yang membaca tulisan ini tentu mendapatkan kesan coitus interuptus, ketidakjelasan tema, judul dan pembahasan. Tetapi penyederhanaan yang muncul dari maksud tulisan ini hanya ingin menunjukan bahwa bagi Lacan manusia adalah irasionalitas, tetapi irasionalitasnya muncul akibat hasrat yang gagal dalam pembentukan identitas. Jadi sebenarnya ada pembacaan menarik jika kita hendak berusaha mengetahui mengapa kekerasan dan irasionalitas tetap menjadi karakter dasar manusia. Bagi Lacan hasrat sebenarnya merupakan satu kesatuan dan manifestasi penunjukan perlawanan terhadap ego. Permainan hasrat adalah upaya maksimalisasi diri yang lepas dari telikung norma dan aturan. Perlawanan terhadap kekangan sekaligus pengkotakan kenikmatan. Hasrat bekerja dalam ranah yang sangat terbuka. Bermain dalam tataran simbolis yang berupa keinginan untuk mendapatkan kepuasan dan sekaligus kekerasan.

Sumber Bacaan

Lacan, Jacques, Ecrit, A Selection (London: Tavistok, 1977).

Levine, Michel P. The Analytic Freud, Philosophy and Psychoanalysis (London & New York. Routledge. 2000)

Néstor Braunstein., “Desire and Jouissance in the Teaching of Lacan” dalam Jean-Michel The Cambridge Companion to Lacan (Cambrndge: Cambridge Rabaté (ed). University Press, 2003).

Rose, Jacqueline and Juliet Mitchell. Feminisme Sexuality, Jacques Lacan and the école Freudienne. Trans Jacqueline Rose (London. MacMillan. 1982)


Sketsa Jacques Lacan oleh Edward Drantler di Wikimedia Commons.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan