Buku ini memaparkan upaya mengubah sistem pendidikan. Tujuannya mau menjawab tantangan disrupsi-inovatif akibat revolusi industri 4.0. Dari mana dan bagaimana perubahan sistem pendidikan harus dimulai? Siapa yang pertama-tama dituntut untuk segera berubah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dimulai dari penjelasan tentang konteks yang memicu mengapa perlu perubahan sistem pendidikan: (i) sumber-sumber disrupsi digital mengubah (ii) model bisnis, lalu pada gilirannya, (iii) menuntut model kepemimpinan baru. 

Sumber-sumber disrupsi itu ialah Internet of Things (IoT), penggunaan sensor, kecerdasan buatan, Blockchain, pencetakan tiga dimensi dan big data. Teknologi digital telah menjadi ekosistem inovasi dalam model bisnis platform. Model platform mengubah bisnis melalui orientasi ke kepuasan pengguna sebagai pencipta nilai lebih. Dengan user experience design (UX) diperoleh informasi tentang profil, konteks, kebutuhan dan hasrat untuk menjawab kepuasan pengguna. Orientasi ke pengguna mendorong inovasi meski sering memicu disrupsi. 

Untuk menghadapi ketidakpastian akibat disrupsi, model kepemimpinan harus berubah, bukan lagi hierarkis atau sentralistis, tapi struktur organisasi harus mudah berubah seperti jejaring-simpul-jala ikan: bila simpul jala diangkat akan membuka peluang baru pinggiran memimpin. Kepemimpinan seperti ini lincah dan resilient menghadapi perubahan.

Perubahan model bisnis dan kepemimpinan itu menuntut ketrampilan dan kompetensi baru: hard skills (komputasi awan, kecerdasan buatan, analytical reasoning, people management, dan user experience design) dan soft skills (kemampuan persuasi dan komunikasi, kerjasama, adaptasi dan manajemen waktu). Semua ketrampilan baru itu berbasis teknologi digital dengan fokus ke inovasi untuk menjawab masalah real time. Maka pengetahuan yang dipelajari harus just-in-time, bukan lagi hanya just-in-case seperti yang diberikan sistem pendidikan selama ini. Maka sistem pendidikan harus berubah.

Perubahan sistem pendidikan harus mulai dengan model pembelajaran baru di mana yang menjadi pusatnya adalah pembelajar, bukan pengajar. Maka pendidik harus mengubah pola pikir menyesuaikan dengan peran barunya karena empat alasan ini: (i) ketrampilan-ketrampilan era digital membutuhkan latihan, metode dan komunikasi pembelajaran yang baru sama sekali; (ii) materi-materi pembelajaran disrupsi-inovatif lebih menekankan kreativitas; (iii) cara belajar generasi digital berbeda dengan generasi pendidik; maka diperlukan (iv) perubahan dalam strategi penempatan pembelajar di mana metode dan komunikasi pedagogi pembelajarannya diarahkan ke kerjasama saling menguntungkan demi inovasi. 

Dalam rangka pembelajaran untuk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan itu, pendidikan karakter jangan sampai dibatasi hanya pada pendidikan budi pekerti dan agama, tetapi harus diintegrasikan ke dalam semua materi pembelajaran serta pelatihan-pelatihan. Tujuan yang mau dicapai: integritas pribadi, altruisme (pelayanan, belarasa, rasa hormat dan tanggungjawab), serta pengembangan jiwa kepemimpinan dan kemampuan bekerjasama. Kerjasama dan altruisme mengandaikan pembelajar memiliki pemikiran yang terbuka dan bisa menghargai perbedaan. Maka sistem pendidikan harus tajam, bukan hanya di dalam pembelajaran ketrampilan-ketrampilan dasar, tetapi juga logika yang melandasi ketrampilan-ketrampilan tersebut. Dengan demikian pembelajar menjadi kritis, kreatif dan familiar dengan media literacy sehingga selektif terhadap informasi. Pencapaian ini membekali pembelajar menghadapi dua bahaya: (i) kecenderungan post-truth yang sarat hoax serta rentan memicu emosi sosial; dan (ii) perkembangan radikalisme agama yang menyasar kalangan pembelajar.

Foto pilihan oleh Matt Harasymczuk di Flickr.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan