Kita telah banyak membaca karya sastra, kisah yang memesona, mengharukan, bahkan yang memaksa kita bertindak dan berubah. Kita semua dibesarkan oleh cerita, oleh karya sastra yang memberi kita bahagia, kegirangan, pengalaman dan harapan. Melalui pilihan kata dan penyampaiannya yang khas mengenai berbagai kondisi kemanusiaan yang ada, cerita-cerita itu membentuk pemahaman dan wawasan kita.

Riris K. Toha Sarumpaet

Setiap orang tumbuh dan dibesarkan oleh cerita-cerita yang ia baca dan dengar semenjak masih kanak-kanak. Saya sendiri yang notabene dibesarkan dari keluarga berbudaya Arab sedari kecil biasa dicekoki kisah 25 nabi dan rasul oleh orang tua. Alih-alih mengharapkan pangeran berkuda putih sebagai pasangan ideal, saya dulu justru amat mengagumi sosok nabi Yusuf: seorang yang ketampanannya membuat banyak perempuan terlena bahkan hingga mereka tertimpa celaka. Kisah si tamak Qarun, sepupu nabi Musa yang kaya raya juga sering diceritakan ibu untuk mengingatkan agar saya tidak menjadi pribadi sombong lagi serakah. Cerita-cerita yang semasa kecil saya baca jelas membentuk cara berpikir bahkan juga cara berperilaku saya. Pengalaman pribadi ini sekaligus menguatkan pernyataan Sarumpaet di atas mengenai betapa berpengaruhnya karya sastra dalam pembentukan pemahaman seseorang akan kehidupan sekalipun ketika sastra tersebut hadir lewat cerita sederhana layaknya cerita anak.

Serupa dengan genre sastra lainnya, sastra anak hadir dengan bentuk yang beragam antara lain lewat dongeng, cerpen, komik, cerita rakyat, pantun, puisi serta drama. Keragaman buku bacaan anak di Indonesia muncul pertama kali di masa penjajahan Belanda. Menjamurnya buku anak didasari oleh kebijakan politik etis pemerintah kolonial. Di tahun 1899, Conrad Theodor van Deventer, seorang anggota parlemen Belanda, menulis sebuah artikel berjudul ‘Een eereschuld’ di majalah De Gids. Dalam artikel tersebut ia menuntut dengan keras agar pemerintah Belanda mengembalikan hutang sebesar 151 juta gulden kepada rakyat Hindia Belanda. Menurut Deventer, Belanda bertanggung jawab secara moril dan materil kepada tanah jajahannya setelah eksploitasi besar-besaran yang negara kincir angin ini lakukan di de gordel van smaragd. Perdebatan mengenai kewajiban agar Belanda  membalas budi terhadap negara jajahannya, berujung pada diberlakukannya politik etis di Hindia Belanda. Irigasi, imigrasi, dan edukasi merupakan tiga poin utama politik etis. Kebijakan ini mengesankan sebuah fase baru yang lebih positif dalam hubungan kolonial Belanda dan Hindia. Akan tetapi, dua poin pertama dari kebijakan tadi berujung pada kegagalan: irigasi hanya diberlakukan di tanah milik Belanda dan bukan milik pribumi sementara imigrasi ke Sumatra dan Kalimantan tidak berlangsung baik dikarenakan masih menumpuknya penduduk yang tinggal di Jawa. Hanya kebijakan pendidikan yang mendatangkan perubahan signifikan bagi pribumi. Untuk pertama kalinya perhatian bagi pendidikan di Hindia Belanda diberikan; anggaran pemerintah untuk pendidikan pribumi naik dari 1,5% di tahun 1901 menjadi 4,5% di tahun 1918; banyak dibuka sekolah yang ditujukan baik untuk anak Eropa maupun pribumi; gencarnya tenaga pengajar dan buku ajar yang didatangkan dari Belanda. Singkatnya, situasi pendidikan di Hindia Belanda pada masa ini mengalami kemajuan yang cukup signifikan.

Indisasi (verindisching): Ketika Sistem Belanda Beradaptasi

Politik etis jelas menyumbang perubahan terhadap perkembangan sistem pendidikan di Hindia Belanda khususnya pendidikan sekolah dasar. Di Hindia Belanda, sekolah dasar dibagi menjadi dua jenis yakni sekolah dengan pendidikan Indis murni (zuiver Indisch onderwijs) yang ditujukan bagi pribumi Hindia Belanda dan pendidikan Indo-Belanda (Indisch-Nederlandsch onderwijs) yaitu pendidikan bagi anak-anak Belanda yang tinggal di Hindia Belanda. Pendidikan Indis murni diberikan antara lain di de Hollands Inlandse School (H.I.S) yang ditujukan bagi anak-anak bangsawan Hindia Belanda dan Hollands-Chinese School (H.C.S) untuk anak-anak dari penduduk etnis Tionghoa. Mereka menggunakan bahasa Melayu serta bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Akan tetapi bahasa Melayu yang merupakan lingua franca pada masa itu menjadi lebih dominan di ruang kelas. 

Anak-anak pribumi yang tidak berasal dari kalangan ningrat bersekolah di volksscholen atau desa-school. Mereka belajar menggunakan bahasa Melayu dan mendapatkan pelajaran keterampilan seperti berdagang, menjahit, membangun dan pelajaran yang berhubungan dengan kerja praktek lainnya.

Berbeda dengan pendidikan Indis, pendidikan Indo-Belanda menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar utama di kelas. Bahkan metode belajar yang digunakan juga diadaptasi dari metode belajar sekolah-sekolah di Belanda. Mereka yang boleh belajar dengan metode ini adalah anak-anak Belanda yang duduk di bangku Europese Lagere School (E.L.S). 

Pada awalnya pendidikan Indo-Belanda hanya terbatas bagi anak-anak Belanda saja. Hingga akhirnya muncul masalah kurangnya institusi pendidikan bagi anak-anak pribumi khususnya mereka yang termasuk dalam golongan bangsawan Jawa. Akhirnya di tahun 1900-an diputuskan bahwa sekolah khusus anak Belanda E.L.S juga dibuka untuk anak-anak priyayi dan anak-anak dari kalangan etnis Tionghoa. Metode pengajaran pendidikan Indo-Belanda diadaptasi sepenuhnya dari pendidikan di Belanda. Akan tetapi dalam prakteknya muncul kebutuhan untuk memasukkan elemen-elemen Indis (Hindia Belanda) dalam metode pengajarannya. Proses masuknya elemen Indis dalam materi pengajaran di sekolah dinamakan oleh Kees Groeneboer, seorang ahli studi pendidikan kolonial, sebagai proses Indisasi (verindisching). Elemen Indis dimasukkan kebanyakan pada buku ajar di sekolah-sekolah. Di antara buku-buku ajar yang paling banyak digunakan di sekolah dasar Hindia Belanda, muncul paling banyak buku karangan Jan Lighthart dan H. Scheepstra antara lain: Van vier kinderen, Pien en Mien, Ot en Sien, Ver van Huis en De wereld. Dari buku-buku tersebut, Ot en Sien tanpa diragukan merupakan buku yang paling populer dan paling sering digunakan baik di sekolah dasar berbasis pengajaran Indis maupun Indo-Belanda.

Ot dan Sien: Bocah-Bocah Lugu Kompeni 

Di Belanda terbit untuk pertama kalinya di tahun 1902 buku anak Ot en Sien. Lewat buku ini, penulis Jan Ligthart dan H. Scheepstra mencoba untuk menghadirkan dunia sederhana khas anak-anak agar mudah dikenali oleh para pembaca muda. 

Ot, anak laki-laki berusia lima tahun dikisahkan selalu bermain dengan tetangganya, seorang anak perempuan yang satu tahun lebih muda darinya, Sien, di sebuah desa asri di Drenthe. Bersama dengan anggota keluarga lainnya; ayah; ibu; nenek; kakek dan si Poes hewan peliharaannya, buku ini menggambarkan sebuah dunia anak-anak yang ideal dan harmonis. Kesederhanaan cerita Ot en Sien membuat buku ini banyak digunakan sebagai buku ajar membaca di sekolah dasar di Belanda. Kesuksesan seri pertama Ot en Sien kemudian diikuti oleh larisnya tiga seri lanjutan Ot en Sien di pasaran. 

Di Hindia-Belanda sendiri, buku ini diadaptasi pada tahun 1911 dengan memasukkan elemen-elemen Hindia Belanda di dalamnya. Anak-anak Belanda Ot dan Sien seolah “dilemparkan” ke dalam lingkungan masyarakat Indis dan berkonfrontasi dengan kehidupan di Hindia Belanda. Bocah-bocah Belanda yang semula tinggal di desa sepi di Utara Belanda, harus meninggalkan lingkungan nyamannya dan memulai petualangan di dunia tropis nan liar: Hindia Belanda. 

Elemen Indis hadir tidak hanya di lingkungan tempat Ot dan Sien tinggal melainkan hadirnya peran-peran pribumi baik dalam cerita maupun ilustrasi buku Ot en Sien in Indie. Serupa dengan di Belanda, buku ini juga digunakan sebagai buku ajar membaca di sekolah dasar di Hindia Belanda khususnya bagi sekolah dasar berbahasa Belanda seperti Hollands Inlandse School  (HIS) dan Europese Lagere School (ELS). 

Buku ajar Ot en Sien in Indie menjadi buku yang menarik untuk diteliti karena minimnya perhatian peneliti terhadap sastra anak Hindia Belanda. Kajian menyangkut buku ajar Ot en Sien in Indie sendiri baru pernah dilakukan sekali oleh ahli sastra anak Hindia Belanda Gerard Brantas. Dalam penelitiannya di tahun 1986 ia menganalisis apakah figur anak manis Ot dan Sien yang muncul di versi Belanda mengalami perubahan karakter setelah menjejakkan kaki di tanah jajahan Hindia Belanda. Berkat pendekatan kolonial yang ia lakukan, tidak mengherankan jika ia beranggapan bahwa buku Ot en Sien in Indie bukan merupakan buku dengan diskursus kolonial. Menurutnya buku ini adalah buku anak yang berisi elemen-elemen nostalgia akan the good old days (de goede oude tijd) penjajahan Belanda di Hindia Belanda. Bagi Brantas, Ot dan Sien adalah figur anak-anak Belanda yang lugu serta tak berdosa dan sama sekali tidak merepresentasikan gambaran penjajah di Hindia Belanda. 

Jika membaca cerita dan melihat ilustrasi buku ini, pembaca memang seperti diantarkan ke dunia khas anak-anak yang jauh dari ide-ide kolonial. Akan tetapi, bila dikaji ulang dengan menggunakan pisau bedah postkolonial, tesis Brantas justru bisa terbantahkan. Hal ini akhirnya menantang saya untuk melakukan pengkajian ulang buku Ot en Sien in Indie dengan menggunakan teori postkolonial sehingga bisa dilihat dengan cara apa visi kolonial dalam buku anak sesederhana Ot en Sien in Indie disampaikan. 

Postkolonialisme: Kritik terhadap Kolonialisme

Dalam buku Orientalism, Western Conceptions of the Orient (1978), Edward Said menulis mengenai hubungan antara dunia Barat dan Timur – dunia Barat kemudian ia namai sebagai Occident dan dunia Timur sebagai Orient. Menurutnya, selama ini dunia Timur tercipta lewat representasi dunia Barat terhadap Timur. Representasi tersebut dilatarbelakangi tidak lain dan tidak bukan oleh eksplorasi Barat terhadap Timur. Hal ini menyebabkan relasi kuasa tidak setara antara Occident dan Orient – dalam hal ini dunia Barat memposisikan diri sebagai pihak superior terhadap dunia Timur. Relasi berat sebelah ini kemudian mengantarkan diskursus kolonial antara dua pihak. 

Said kemudian beranggapan bahwa representasi Barat terhadap Timur tidak seharusnya dilihat sebagai sebuah kenyataan. Elleke Boehmer dalam buku Colonial and Postcolonial Literature (2005) menambahkan bahwa representasi Barat tersebut dipenuhi oleh mitos dan imajinasi dunia Barat terhadap kekuasaan dan subordinasi terhadap dunia Timur. Oleh karena itu representasi Barat bukanlah gambaran sesungguhnya dunia Timur melainkan gambaran yang diwarnai unsur politis dan cenderung melegitimasi kekuasaan kolonial Barat terhadap Timur. 

Dalam penelitian ini, saya menggunakan pendekatan postkolonial untuk menganalisis visi kolonial yang muncul dalam buku Ot en Sien in Indie. Pada dasarnya postkolonial mengacu pada praktik-praktik yang berkaitan akan gugatan atas struktur kekuasaan, hierarki sosial dan wacana kolonialisme lainnya. Dalam teks sastra sendiri, wacana kolonial hadir melalui narasi yang merupakan representasi dunia Barat terhadap Timur. Dikarenakan belum adanya teori ajek postkolonial untuk menganalisis teks kolonial, saya merancang sendiri model analisa dengan menggabungkan empat strategi yang dirumuskan oleh para peneliti postkolonial sebagai ciri diskursus kolonial dalam susastra. Strategi-strategi tersebut antara lain adalah; drama kolonial (Elleke Boehmer); othering (Elleke Boehmer)  mimicry (Homi Bhabha) dan anti-conquest (Mary Louise Pratt). Pada diskusi ini hanya akan dibahas dua strategi pertama yakni drama kolonial dan othering. Drama kolonial, merupakan strategi penggambaran dunia Timur dengan meminimalisir peran pribumi dalam cerita. Di dalam drama kolonial, pemeran utama yang selalu muncul sebagai pahlawan adalah orang Barat. Pribumi muncul hanya sebagai latar belakang dalam cerita atau bahkan sama sekali tidak dimunculkan dalam cerita. Dunia Barat dan Timur digambarkan sebagai dua dunia yang tidak berkaitan satu sama lain meskipun terjadi konfrontasi antara orang dari bangsa Barat dan bangsa Timur. Strategi kedua, othering, muncul dari narasi mengenai oposisi biner antara Barat dan Timur. Biasanya bangsa Timur sebagai ‘yang liyan’ diposisikan sebagai pihak yang lebih rendah, tidak beradab, primitif sedang Barat sebagai ‘aku’ merupakan pihak yang memiliki kekuasaan lebih tinggi, beradab dan bersikap lebih sopan santun. 

Drama Kolonial: Dramanya Para Kompeni

Dalam empat seri Ot en Sien in Indie, terdapat 20 cerita yang menampilkan kontak antara tokoh Belanda dan pribumi dalam satu cerita. Uniknya hampir di semua cerita, tokoh pribumi digambarkan sebagai sosok asisten rumah tangga seperti babu, tukang kebun, kuli angkat dan tukang masak. Latar tempat di mana peran pribumi bermain juga hanya terbatas di lingkungan domestik saja; dapur; ruang makan; sumur; dan kebun. Sebaliknya, tokoh-tokoh Belanda digambarkan memiliki dunia yang lebih bebas dan eksklusif. Sebagai contoh, latar tempat sekolah digambarkan sebagai ‘dunia orang kulit putih’. Tidak ada satupun tokoh pribumi yang dikisahkan berada di lingkungan sekolah; guru dan semua murid orang Belanda; murid-murid mengenakan pakaian sekolah Belanda; lagu yang dinyanyikan dan dongeng yang dibacakan semua berbahasa Belanda. 

Hal mencolok lain yang terlihat di cerita-cerita yang mengisahkan kontak antara tokoh Belanda dan Pribumi adalah, tidak adanya dialog dua arah antara kedua belah pihak. Salah satu contohnya muncul di adegan saat Kromo, tukang kebun di rumah Ot, memberikan Ot kulit jeruk Bali untuk dijadikan mainan kereta.

Kromo mengupas jeruk Bali.
Kulit yang paling tebal diberikannya untuk Ot.
“Bikin Kereta, njo,” ujar Kromo. 
Ya, Ot bisa membuat kereta. Ot mau melakukannya. 
“Boleh kupinjam pisaumu? tanya Ot kepada Ibu.

Meskipun ada upaya dari tokoh pribumi untuk memulai percakapan dengan tokoh Belanda, tidak ada reaksi yang diberikan oleh tokoh Belanda lewat dialog. Dialog selalu terjadi di antara tokoh kulit putih. Hal ini menunjukkan distingsi yang mencolok antara dunia tokoh Barat dan dunia tokoh pribumi dalam cerita. 

Dominasi peran tokoh kulit putih juga terlihat jelas di ilustrasi yang ditampilkan di cerita. Di sebagian besar ilustrasi, tokoh pribumi banyak digambarkan dengan badan menghadap ke belakang. Sementara hampir semua tokoh Belanda digambarkan lebih dominan di ilustrasi. Bahkan sebagian besar figur pribumi di ilustrasi digambarkan dengan postur membungkuk dan wajah menatap ke bawah. Sebaliknya, tokoh Belanda Ot dan Sien beberapa kali digambarkan berdiri di posisi yang lebih tinggi dari figur pribumi seolah memiliki peran yang lebih penting dalam cerita. 

Othering: Oposisi Biner ‘Aku’ dan ‘Yang Liyan’

Orang pribumi – atau yang Elleke Boehmer sebut sebagai ‘yang terjajah’ atau ‘subaltern’ – sering direpresentasikan dengan label stereotip khas kolonial. Dalam buku anak Ot en Sien in Indie, stereotip akan pribumi muncul baik secara eksplisit maupun implisit. Hampir semua tokoh pribumi digambarkan sebagai perempuan atau lelaki tua renta yang berprofesi sebagai pelayan di rumah orang Belanda. Penggambaran sosok pribumi sebagai figur yang lemah, tua dan miskin berbanding terbalik dengan figur tokoh Belanda dalam cerita. Sebagai peran utama dalam buku ini, Ot dan Sien digambarkan sebagai dua anak yang energik, pintar serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Tak hanya itu, figur orang dewasa Belanda dalam cerita Ot en Sien juga digambarkan sebagai persona yang bijaksana, kuat dan berpendidikan; tokoh ayah diceritakan sering membaca koran dan pergi ke kantor untuk bekerja; sosok nenek Ot digambarkan sebagai perempuan tua yang masih sering melakukan aktivitas luar rumah dan sering menceritakan dongeng dengan pesan moral kepada Ot dan Sien. Kontras dari penggambaran tokoh pribumi dengan tokoh Belanda membuktikan bahwa oposisi biner jelas muncul dalam cerita kanak-kanak Ot en Sien in Indie. Representasi yang didasarkan oleh ‘proyeksi-diri’ bangsa Barat terhadap bangsa Timur mengakibatkan penggambaran positif orang Eropa dibandingkan dengan orang pribumi di Hindia Belanda. 

Tidak berbeda dengan di cerita, oposisi biner juga banyak muncul dalam ilustrasi. Sebagian besar ilustrasi dengan tokoh orang Belanda didominasi oleh warna putih sedangkan ilustrasi dengan tokoh pribumi cenderung digambarkan gelap dan muram. 

Warna putih memang sebenarnya identik dengan warna kolonial.  Henk Schulte Nordholdt, dalam bukunya yang berjudul Outward appearances: trend, identitas dan kepentingan, meneliti gaya berbusana masyarakat di masa kolonial. Menurutnya, setelan putih yang ia sebut ‘khas kolonial’ menandakan jarak antara penguasa dan rakyat yang tidak bisa dijembatani. Dengan kata lain, warna pakaian juga merepresentasikan perbedaan kuasa antara yang kuat (dalam hal ini Belanda sebagai penjajah) dan yang lemah (Hindia Belanda sebagai pihak terjajah).

Selain relasi penjajah dan terjajah, oposisi biner juga muncul lewat penggambaran warna kulit. Dalam cerita “Ot wil een neger worden” diceritakan Ot dan Sien mencoba untuk mengubah warna kulit mereka menjadi gelap. Rasa penasaran akan orang-orang yang memiliki warna kulit berbeda dari mereka membuat mereka berasumsi bahwa penyebab orang berkulit gelap adalah karena sifat jorok orang kulit gelap yang jarang mandi. Sekilas hal ini memang menimbulkan gelak tawa pembaca namun di sisi lain, dibalut dengan humor ironi, tersimpan makna yang merendahkan orang dengan ras yang berbeda.

Tak sampai di situ saja, di akhir cerita saat Ot dan Sien selesai membalur sekujur tubuh mereka dengan abu hitam, dikisahkan bahwa ibu Ot menjadi marah besar dan beranggapan bahwa Ot dan Sien berubah menjadi anak-anak nakal. Secara implisit digambarkan bahwa proses mengimitasi penampilan orang dengan ras berbeda membuat perilaku dua anak Belanda yang manis menjadi lebih liar dari biasanya. Representasi orang pribumi yang bertingkah laku liar serta representasi orang Barat yang lebih beradab adalah oposisi biner yang coba untuk disampaikan lewat cerita ini. 

Penutup

Pada hakikatnya, fungsi dari sastra anak yang paling utama adalah sebagai sarana hiburan, edukasi dan informasi. Akan tetapi, bacaan anak menjadi semakin menarik jika ditelaah dengan mempertimbangkan periode kapan buku itu diterbitkan. Bahkan buku bacaan anak sesederhana Ot en Sien in Indie, menyimpan banyak visi kolonial yang akhirnya melegitimasi kekuasaan kolonial Belanda di Hindia Belanda. Selain Ot en Sien in Indie, masih banyak lagi buku ajar anak yang diterbitkan di masa kolonial dulu.Tidak ada salahnya jika peneliti sastra melakukan penelitian lanjutan mengenai ideologi kolonial dalam buku ajar anak Hindia Belanda mengingat masih keringnya antusiasme peneliti sastra Indonesia terhadap susastra anak. 

Bagikan:

Tinggalkan Balasan