Lilie  Suratminto (Universitas Indonesia)

ABSTRAK

Munculnya bahasa Kreol Portugis di Kampung Tugu Kecamatan Semper Jakarta Utara erat hubungannya dengan sejarah direbutnya kota Melaka  dari tangan bangsa Portugis oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC) berkat bantuan Sultan Johor pada tahun 1641 yang  pada waktu itu VOC  di bawah Gubernur Jenderal Van Diemen. Perebutan kota Melaka ini dimaksudkan untuk memutus jalur perdagangan rempah-rempah Maluku-Malaka. Serdadu-serdadu Portugis yang menjadi tawanan perang diangkut ke Batavia untuk dipekerjakan sebagai serdadu Kompeni (VOC). Komunitas Portugis yang tersisa sekarang  tinggal di wilayah Kampung Portugis atau Medan Portugis di pantai barat Melaka, Malaysia, tepatnya di jalan Albuquerque. Komunitas mereka disebut komunitas Krestang. Setiap tanggal 29-30 Juni warga Kampung Portugis Melaka merayakan Pesta San Pedro. Di Batavia para tawanan tersebut oleh Belanda mula-mula ditempatkan di luar tembok kota Batavia  tepatnya di daerah sekitar Gereja Portugis atau Gereja Sion sekarang. Mereka kemudian dipindahkan ke Kampung Tugu yang letaknya sangat jauh dari  Batavia yang pada waktu itu sulit dijangkau karena kampung tersebut dikelilingi oleh rawa-rawa. Mereka kemudian membentuk sebuah kelompok masyarakat Tugu yang  terisolir dari daerah sekitarnya yang dihuni oleh orang Betawi, oleh karena itu masyarakat Tugu ini dapat mempertahankan adat istiadat mereka selama ratusan tahun. Dalam pergaulan sehari-hari di antara mereka mempergunakan bahasa Kreol Portugis atau lebih dikenal dengan nama bahasa Kreol Tugu. Sejak masa kemerdekaan pemakai bahasa Kreol  Tugu semakin berkurang karena berbagai faktor dan akhirnya pada awal abad 21 bahasa Kreol Tugu benar-benar punah karena tidak ada lagi penuturnya. Menurut Gobard (1976) secara umum bahasa mempunyai  empat kemungkinan fungsi, yaitu fungsi vernacular, vehicularreferensi kultural dan  fungsi mitis. Meskipun bahasa  Kreol Tugu sudah punah  tetapi kosakata bahasa tersebut masih dipergunakan dalam kehidupan sosial budaya mereka. Penelitian  ini memusatkan perhatian mengenai proses perkembangan bahasa kreol Portugis menjadi bahasa Kreol Tugu dan fungsi   bahasa tersebut  yang kini sudah punah  dalam pemertahanan budaya masyarakat kampung Tugu berbasis pada senarai kosakata bahasa Kreol Tugu yang pernah dikumpulkan dalam penelitian terdahulu (Suratminto, 2004) dan telah direvisi pada penelitian terakhir (2014).    

Kata kunci: Kreol Portugis, Kreol Tugu, bahasa punah, sosial budaya, Melaka

Bahasa Kampung Tugu sebagai Bahasa Kreol Portugis 

Bahasa secara keseluruhan dapat berubah.  Sering perubahan itu terjadi akibat kontak antar dua bahasa dengan latar belakang bahasa yang berbeda. Dalam hal ini antara bahasa setempat di Melaka dengan bahasa Portugis sejak jatuhnya Melaka  ke tangan Portugis pada tahun 1511. Di sana bahasa campuran tersebut berkembang menjadi bahasa kampung Portugis yang kemudian dikenal sebagai bahasa  Krestang.  Kondisi perubahan bahasa yang 

*) Makalah  disampaikan dalam acara Diskusi Hari Sabtu, 23 Agustus 2014 di Cak Tarno   Institut.

demikian dapat muncul yang dalam istilah linguistik  disebut bahasa pidgin. Bahasa pidgin biasanya  memiliki tatabahasa  sederhana dengan kosakata  dari percampuran kedua bahasa tersebut.  Sebuah bahasa pidgin tidak memiliki  penutur bahasa ibu. Jika bahasa tersebut berkembang menjadi bahasa ibu oleh generasi berikutnya  maka  bahasa itu disebut bahasa kreol. Jadi bahasa kreol adalah hasil proses perkembangan dari bahasa pidgin menjadi bahasa ibu. Mengenai asal terciptanya bahasa pidgin Cor. van Bree (  1990: 272)  berpendapat:

Struktur bahasa kreol masih seperti bahasa pidgin, tetapi disebut bahasa kreol karena bahasa  ini secara konvensional telah berfungsi sebagai bahasa ibu. Bahasa pidgin dapat menjadi bahasa kreol ketika adanya penutur asing dan kemudian digunakan oleh keturunannya yang kemudian dibakukan sebagai bahasa pertama mereka dan berlangsung secara turun temurun. Istilah  kreol berasal dari bahasa Prancis creole atau dari bahasa Spanyol criollo. Bahasa Portugis Kampung Tugu dengan demikian termasuk bahasa kreol (Suratminto 2010) (Harimurti 2008:137).

Beberapa contoh kalimat dalam bahasa Kreol Tugu:

Bahasa IndonesiaBahasa Kreol Tugu 
Kemari, cepat!Saya tidak mau.Dia tidak mau.Saya mau.Kamu mau apa tidak?Silakan duduk!Engkau mau ke mana?Tunggu sebentar!Kamu dari mana?Engkau menanyakan apa?Saya mau membeli ayam.Mengapa kamu menangis?Biaki, gas!Joning kéré.Elè ning kéréJo konti èntiBos kéré ning kéré?Santa!Bos anda undi?Ispra mas  sianti!Bos dari undi?Bos frunta gi?Jo kéré kompra ung galiParki bos cura?Sao di pasa. (Bong pasa) 

Fungsi Bahasa 

Sebenarnya bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi  saja melainkan masih ada fungsi-fungsi lain. Gobard (1976) membagi bahasa menjadi empat fungsi, yaitu: 

  1. Fungsi vernacular, sebagai alat komunikasi dalam satu kelompok, misalnya kelompok etnis Jawa, Sunda, Bugis, dan sebagainya. 
  2. Fungsi vehicular, sebagai  alat komunikasi dalam bidang administrasi, hukum, politik, atau komunikasi antar kelompok  yang berbeda bahasa, misalnya antarkelompok etnis atau antarnegara.  Sebagai  contoh Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional Republik Indonesia atau bahasa Inggris sebagai salah satu bahasa resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa. 
  3. Fungsi referensi kultural, sebagai referensi pada kebudayaan suatu kelompok masyarakat atau kelompok etnis misalnya sebagai bahasa dalam  kehidupan sosial atau bahasa upacara tradisional.
  4. Fungsi mitis  atau religius, sebagai bahasa yang digunakan  dalam ranah agama atau kepercayaan , misalnya dalam upacara religius, mitologi atau penyebaran agama. Misalnya bahasa Arab dalam ritual keagamaan, dalam dakwah dan lain-lain.

Padanan Nomina Bahasa Indonesia-Kreol Tugu  dan  Portugis

Bahasa IndonesiaBahasa Kreol Tugu Bahasa Portugis
air mataolu sulagerrasgalo
badankorpocorpo
batok kepalamiolucrânio
belakangkostacostas
betisperna piklinobezerro
bibirbesulabio, borda
berakkaga /bopragodefecação
bulu badankabelupenas do corpo
buah pelirkotetestículo
buah pinggangnier*rim
butuh / pelirkote / cunipenis
dagubarbaparente
dahitestatesta
kepalakabesacabeça
keringatsuitsuor
kulitpelipele
kumis brilbigode
lambung /pinggangbras, kaderalado
lender (reak)saloberos credores
lubang hidungburako naresnarina
mulutbokaboca
pahapernacoxa
pantatoldikofundo, traserio
    lobang pantatburako oldikacu
pelirkotetestículos
penis cunipênis
pipinostubochecha, discaramento
pundakfetuombro
pusarimbigoumbigo
rambutkabelucabelo
  rambut kemaluanpêlos pubianos
rongga mulutdenter bokagaita
senggama (manusia)tomomaridocoito
senggama (hewan)intofaintercurso
senimiyahxixi
    air senimiyuhurina
suaratuadasaudavel

Punahnya Bahasa Kreol Portugis di Kampung Tugu

Pada akhir abad 20 di Kampung Tugu kita masih dapat jumpai beberapa puluh generasi tua yang masih fasih berbahasa Kreol Portugis. Menginjak abad ke 21 jumlah mereka terus berkurang dan bahkan habis sama sekali karena proses alamiah, sedangkan generasi muda yang mula-mula menguasai secara pasif bahasa Kreol Portugis dalam generasi berikutnya mereka sudah tidak mampu lagi menurunkan bahasa tersebut kepada generasi penerusnya. Pada saat ini masyarakat Kampung Tugu benar-benar sudah kehilangan jejak karena bahasa Kreol Portugis sebagai bahasa ibu sudah digantikan dengan bahasa Indonesia.  Inilah kisah tragis sebuah bahasa yang pernah eksis di Indonesia.  

Pada masa kolonial, bahasa Kreol Portugis dan Bahasa Belanda serta bahasa–bahasa etnis termasuk bahasa Melayu sebagai bahasa lingua franca antaretnis  dapat hidup berdampingan. Tidak dapat disangkal bahwa pada masa kolonial orang yang menguasai bahasa Belanda akan naik status sosialnya. Rupanya dalam alam kemerdekaan pun demikian, hanya saja pengaruh bahasa Indonesia lebih besar dibandingkan dengan pengaruh bahasa Belanda pada masa kolonial. 

Fungsi Bahasa Kreol Tugu sebagai Pemertahanan Budaya  

Dari keempat fungsi bahasa menurut Gobart (1976) dalam perkembangannya bahasa Kreol Tugu pernah berfungsi sebagai bahasa venacular artinya bahwa bahasa Kreol Tugu pernah berkembang menjadi bahasa pengantar antarwarga masyarakat Kampung Tugu. Dengan kata lain bahasa Kreol Tugu selama hampir empat abad sejak kedatangan mereka di Batavia (1641) bahasa ini menjadi alat komunikasi antar sesama mereka. Bahasa Kreol Tugu dalam hal ini berfungsi sebagai bahasa etnik di samping bahasa-bahasa etnik lain di Indonesia. 

            Bahasa Tugu tidak pernah berfungsi sebagai bahasa vehicular  artinya bahasa ini tidak pernah dipakai secara resmi dalam berbagai bidang resmi dalam  pemerintahan. Bahasa Kreol Tugu  walaupun sudah mati tetapi bahasa itu masih dapat berfungsi yaitu fungsi referensial atau dengan kata lain fungsi sosial budaya. Mengenai apakah masih mempunyai fungsi mitis atau fungsi religius diperlukan penelitian khusus. Penelitian ini tidak membahas mengenai fungsi mitis  dari bahasa Kreol Tugu. Penelitian dilakukan dengan cek langsung di lapangan dan membandingkannya dengan senarai kosakata bahasa Kreol Tugu.

Secara universal dalam memperingati siklus kehidupan, seseorang tidak terlepas dengan upacara-upacara ritual misalnya peristiwa kelahiran, pernikahan dan kematian. Hampir semua kegiatan tersebut selalu ada korelasinya dengan kegiatan sosial budaya. Gereja di samping sebagai tempat beribadah, gereja juga menjadi pusat interaksi sosial budaya masyarakat. Gereja Tugu didirikan pada tahun 1747. Gereja tertua di Tanjung Priok ini merupakan Gereja yang ketiga. Gereja pertama dan Kedua hancur karena terbuat dari papan dan bilik yang tidak tahan cuaca. Lokasi Gereja I dan II sekarang jadi Gereja Katholik “Salib Suci”. Pada tahun 1678 di Tugu telah ada bangunan Gereja darurat kemudian pada tahun 1737 oleh Pendeta Dirk Jan Van der Tydt didirikan Gereja yang kedua kalinya. Kemudian pada tahun 1740 sewaktu pemberontakan Cina di Batavia Gereja tersebut hancur di bakar habis.  Gereja yang ketiga dibangun pada tahun 1744 dan ditahbiskan pada tanggal 29 Juli 1747 oleh Pendeta Mohn. Lahan bangunan Gereja tersebut adalah pemberian dari seorang dermawan bernama Justinus de Vinck yang pada waktu itu menjadi tuan tanah di Cilincing. Atas izin dari Gubernur Jenderal Gustaf Willem Baron van Imhoff sebagai Gubernur Jenderal VOC di Batavia, maka berdirilah  sebuah gereja Protestan yang sampai sekarang ini dikenal dengan nama Gereja Tugu.

            Pada saat perayaan Natal masyarakat Kampung Tugu  mempunyai sebuah kebiasaan  yang sampai saat ini masih tetap mereka pertahankan sebagai ciri identitas  mereka sebagai berikut:  Sebelum tamu masuk ke dalam rumah dan berjabatan tangan dengan tuan rumah, tamu tersebut terlebih dahulu  harus mengucapkan kalimat ini:

 “Bi singku dia Desember, nasedu di nos sior, nos sior jabina mundu. Libra nos pekador, unga anti di kinta ferra assi klar kuma dia unga anju di nos sior assi grandi di allegria. ashi mes ku bosso ter. dies Lobu sua da bida kompredu lo-dapang kria so podeer, santu justru”  

“Pada tanggal 25 Desember, Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, Juruselamat , barang  siapa percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan hidup yang kekal,  sekiranya kami diizinkan untuk beriman kepada-Nya.”

Setelah itu tamu dipersilakan masuk, berjabat tangan dan saling memaafkan dengan tuan rumah dan tuan berkata: “Santa!”  ‘silakan duduk’.  Kemudian mereka  duduk berbincang-bincang sambil mencicipi makanan dan minuman yang dihidangkan khusus untuk Perayaan  Natal. 

Dari tatacara penyambutan tamu dalam acara perayaan Natal tersebut menunjukkan bahwa kosakata bahasa Kreol Tugu masih berfungsi dalam kehidupan sosial budaya masyarakat kampung tersebut. Meskipun bahasa Kreol Tugu sudah boleh dikatakan mati karena tidak ada lagi pendukungnya yang aktif berkomunikasi dengan bahasa tersebut, namun demikian dalam kehidupan sehari-hari masih banyak ungkapan dalam bahasa tersebut. Tatacara dalam perayaan Natal tersebut  hanya salah satu contoh pemertahanan budaya masyarakat Kampung Tugu dalam kehidupan sosial. Contoh tersebut  menunjukkan bahwa mereka masih berusaha mempertahankan ciri budaya mereka yang berbeda dengan budaya etnis lain.  

Sampai saat ini di Kampung Tugu setiap tahun sehabis perayaan Tahun Baru mereka menyelenggarakan pesta mandi-mandi  yaitu pesta mengoleskan bedak di antara peserta. Pesta yang sebenarnya diperuntukkan bagi Vilu-vila atau ‘muda-mudi’  dalam mencari jodoh diikuti juga oleh orang-orang tua. Jadi pesta itu bersifat massal sehingga suasana menjadi sangat meriah. Pesta mandi-mandi yang kemudian dimaknai juga sebagai upacara penyucian diri diselenggarakan pada minggu pertama bulan Januari.

            Kegembiraan anak-anak dalam bermain sehari-hari terutama pada waktu terang bulan purnama sebelum ada televisi  dan penerangan listrik yang cukup seperti saat ini, selalu diselingi dengan nyanyian-nyanyian khas dalam bahasa Kreol Tugu. Nyanyian yang mereka peroleh secara lisan dari nenek moyang mereka misalnya lagu Kafrinyu. Lagu ini dan juga lagu-lagu tradisional Tugu lain saat ini masih dikuasai oleh warga Kampung Tugu, bahkan  beberapa sudah direkam dalam bentuk lempeng cakram (VCD atau DVD) untuk  nyanyian keroncong. Kampung Tugu juga dikenal sebagai tempat asal musik keroncong di seluruh Indonesia. Sampai saat ini di kampung tersebut masih terdapat beberapa perkumpulan musik keroncong anatara lain grup Krontjong Toegoe. Selain lagu keroncong Moritsco  dan lain-lain syair lagu Kafrinyu yang terdiri atas empat baik merupakan lagu pavorit  vilu-vila Kampung Tugu. Keempat syair  dalam lagu KAFRINYU adalah sebagai berikut:

 Bahasa Kreol TuguBahasa Indonesia 
1.    2.    3.    4.Kafrinyu kiteng santaduLanta pie bate-bateKaprinyu kire anda kayuTira terban naji sake Pasa-pasa na berdumarOla nobiu kere nabigaVilu-vilu nangkorsang malNungku aca dijustisa Dong ali didendangBelu kordong barla bongbongUng mekas munte ni mauKere bala unjeng jifrau Kartapa saily vulaMorsegu supestaKrunci teng na kabesaSu vilu teng nabariga Kafrinyu sedang duduk bermainAngkat kaki sambil berdnsaKafrinyu mau permisi pulangAngkat topi beri selamat Jalan-jalan pantai lautLihat kapal sedang berlayarAnak-anak jangan berpikir jahatAkan tersangkut perkara polisi Hanya berbicara tidak artinyaMenari berdansa sambil bergayaUang sesen pun tidak di tanganTapi berani untuk meminang Ketapang sedang berbungaKalong punya pestaAnak muda di dalam perutSleyer baru ada di kepala

Berikut ini adalah salah satu contoh syair nyanyian anak-anak yang masih dikuasai oleh warga Kampung Tugu asli.  Mereka tidak mengetahui judulnya tetapi mereka paham di luar kepala dan melisankannya dalam bentuk nyanyian.

Bahasa Kreol TuguBahasa Indonesia
 Yan Kagè  létiTrees pedra keentiLadang busi kampuBoi thing picaduTróng ku thing èbèrtuEru éru sinyo kaber jèruCirmel isté tèra Tambur labe géraJa bira bandèJa tokka piloorIsa pusa naris dijustisaDi dèra di dèraTaflak fól figèraUnga rabana unga gitèraUnga alfada unga istèra Yan buang air susu  tiga batu panas siapa jahatkan mantu  maling ganggu di tanah lapang  bui ada tertutup  penjara ada terbuka  ayo ayo kami bersorak  ciremai ini negri  tambur bikin rusuh  kalau kena pelor  terbalik bandera  tarik-tarik hidung di hukuman  Lihat tetamu lagi datang  buka taplak daun pisangsatu rebana satu gitar  satu bantal satu tikar   (dari: Ikatan Keluarga Besar Tugu 1995:21)

Simimpulan

Kontak pertama bangsa Portugis dengan warga Melaka sejak direbutnya kota Melaka dari wilayah Johor oleh bangsa Portugis hampir lima abad yang lalu menciptakan sebuah bahasa pidgin. Bahasa pidgin ini kemudian oleh warga pribumi melalui proses kreolisasi menjadi bahasa ibu mereka maka tercipta bahasa Kreol Portugis yang kemudian disebut bahasa Krestang. Proses kreolisasi ini berlangsung selama berpuluh tahun. Sejak direbutnya Melaka dari tangan Portugis oleh orang Belanda maka sebagian penduduk Melaka diangkut ke Batavia sebagai tawanan perang dan kemudian dimerdekakan dan mereka tinggal di Kampung Tugu.  Bahasa Kreol Tugu dalam perkembangannya pernah berfungsi sebagai bahasa vernacular yakni sebagai bahasa pengantar dalam kelompok masyarakat Kampung Tugu. Bahasa Tugu tidak pernah berfungsi sebagai bahasa vehicular karena tidak pernah dibakukan dalam bentuk tulis apalagi dipakai dalam bidang-bidang tertentu dalam pemerintahan sejak masa kolonial sampai dengan masa kemerdekaan. Dengan dibukanya jalan raya Cakung-Cilincing dan semakin majunya sarana komunikasi, maka Kampung Tugu tidak lagi terisolir dari penduduk sekitarnya. 

Karena semakin kuatnya pengaruh bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari baik formal maupun informal, dan keengganan kaum muda untuk mempelajari dan menguasai bahasa mereka, sedangkan jumlah generasi tua yang menguasai bahasa ini berkurang secara alamiah, maka secara pelan dan pasti bahasa Kreol Tugu mengalami kepunahan karena tidak ada lagi penutur sebagai pendukung kelangsungan bahasa tersebut. Penelitian ini membuktikan bahwa masih ada usaha pemertahanan budaya masyarakat Tugu dengan masih dipergunakannya kosakata bahasa Kreol Tugu misalnya dalam bentuk kalimat dalam tatacara menerima tamu pada perayaan Natal, dan dalam pesta mandi-mandi  oleh vilu-vila. Di samping itu kosakata yang diabadikan dalam tembang-tembang keroncong seperti Kafrinyu, MoritscoNina Bobo dan lain-lain  memberikan ciri pemertahanan identitas  budaya masyarakat Tugu. Bahasa sama dengan kosakata yang mengalami proses ‘lahir’  kemudian ‘hidup dan berkembang’  dan  ‘mati ’ seperti yang dialami oleh bahasa Kreol Tugu. Kata punah sebenarnya masih kurang tepat karena dalam kehidupan sosial budaya masyarakatnya masih tersisa kosakata untuk mengungkapkan istilah-istilah dalam pelbagai peristiwa budaya. Penelitian ini baru sebagian kecil dari aspek kebahasaan dalam kehidupan sosial budaya masyarakat Kampung Tugu. Selanjutnya bahasa Kreol Tugu masih terbuka untuk diteliti misalnya  fungsi mitis atau religius dan aspek-aspek kebahasaan yang lain yang belum tersentuh dalam penelitian-penelitian yang pernah dilakukan terdahulu.

Daftar Referensi

Bree, Cor. van. 1996. Historische Taalkunde. Leuven/Amersfoort: Acco Uitgeverij.

Da França, Antonio Pinto.2000. Pengaruh Portugis di Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Ganap, Victor. 2013. Kerontjong Toegoe, Musik Kerocong Yang Masih Tetap Bertahan  (disertasi). Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Grijns, C.D, J.W. de Vries and L. Santa Maria.1983. European Loan-Words in Indonesian- A Check-list of words of European origin in Bahasa Indonesia and Traditional Malay. Leiden: KITLV, Indonesian Etymological Project V.

Groeneboer, Kees. 1993.`Weg tot het Westen- Het Nederlands  voor Indië 1600-1750. Leiden: KITLV.

Groeneboer, Kees..1995. Jalan ke Barat- Bahasa Belanda di Hindia Belanda 1600-1950. Jakarta: Erasmus Educatief.

Heuken, Adolf .1996 a. Historical Sites of Jakarta.  Jakarta: Loka Caraka.

Heuken, Adolf .1996 b. Tempat-tempat Bersejarah di Jakarta. Jakarta: Loka Caraka.

Heuken, Adolf .1999. Sumber-sumber Asli sejarah Jakarta I Dokumen-dokumen sejarah Jakarta sampai dengan akhir abad ke-16. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Heuken, Adolf.2000 a. Sumber-sumber asli sejarah Jakarta II Dokumen-dokumen sejarah Jakarta dari kedatangan kapal pertama Belanda (1596) sampai dengan 1619. Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Heuken, Adolf .2000 b. Historical Sites of Jakarta. Jakarta: Cipta Loka Caraka, 6 th ed.

Heuken, Adolf . 2003. Gereja-gereja tua di Jakarta. Series old worship buildings in Jakarta.Jakarta: Cipta Loka Caraka.

Hoed, Benny H. 2011. ”Ekologi Bahasa, Revitalisasi Bahasa, Identitas dan Tantangan Global dalam Masyarakat Indonesia yang Multikultur”  (makalah) yang disampaikan dalam Seminar Pengembangan dan Perlindungan Bahasa-Kebudayaan Etnik Minoritas untuk Penguatan Bangsa. Jakarta: PMB-LIPI, 15 Desember 2011 

Ikatan Keluarga Besar Tugu. 1995. Sekelumit Sejarah tentang Gereja Tugu-Keroncong Tugu dan Orang Tugu dan Buku Silsilah Abad ke-17 s/d/ Abad ke-20.Jakarta: IKBT.

“Keroncong Kampung Toegoe” dalam Sarinah (majalah) 25 Maret 1991 hal. 115.

Quiko, Fernando. t.t.  Asal mula Keroncong – copies of the manuscript. Quiko, 

Fernando. t.t.“Tugu tempat lahir keroncong Muritsku” copies of the manuscript..

Schuchardt, H.1891. Kreolische Studien IX: Űber das Malaioportugiesische von Batavia und Tugu. Wien: Tempsky. [Sitzungberichte Kaiserliche Akademie der Wissenschaffen in Wien; Philosophische Historische Klasse 122].

Spruit, Ruud. 1989. Het Land van de Sultans –Maleisië en het kolonialisme. ’s Gravenhage: SDU Uitgeverij.

Suratminto, Lilie. 1998.  “Menguasai Bangsa melalui Bahasa- Koloniale Taalpolitiek in Oost en West; Nederlands-Indië; Suriname; Nederlandse Antilen  en Aruba’ in Kata Lembaran Berita Pusat Leksikologi dan Leksikografi  FSUI, hal. 11-13.

Suratminto, Lilie. 2010. ” Creole Portuguese of the Tugu village-colonial heritage in Jakarta – the historical and linguistic reviews” dalam Tawarikh- International Historical Journal”.

 _______ t.t.  “Toegoe dusun tua di Betawi yang penuh Nostalgia” dalam Jakarta-Jakarta (magazin)  hal. 44-66.

Sumber-sumber Internet:

http://ugm.ac.id/id/berita/1865-kerontjong.toegoe.musik.kerocong.yang.masih.tetap.bertahan\
http://www.republika.co.id/ASP/koran.detail?id=162392&kat_id=166
Bagikan:

Tinggalkan Balasan