Alam jagat raya dipenuhi kehidupan yang beraneka ragam hayati tumbuh-tumbuhan akan mengeluarkan sari dan bijinya lalu anginakan menghembuskannya sampai jatuh ketanah selanjutnya hujan membasahi tanah sari dan biji tersebut berkembang hingga tidak lagi disebut sari dan biji, begitu juga hujan dia berproses melalui air yang berada disungai yang mengalir lalu menjadi uap dan berkumpul diudara hingga mengupal menjadi awan yang gelap setelah itu awan berproses melalui dentuman awan dan keluarlah rintikan air dari awan sehingga disebut hujan. Suara harimau mengaum menjaga anaknya dari mangsa yang  sangat berbahaya yaitu manusia. 

Manusia mahluk yang sangat berbeda dengan mahluk lainnya dia dapat melakukan hal apa saja yang tidak dapat dilakukan oleh tumbuh-tumbuhan, harimau, burung, ikan  ataupun binatang lainnya, namun manusia juga dapat berprilaku seperti binatang dalam mencari makan dan bereproduksi, tetapi keduah hal tersebut manusia memiliki perbedaan yaitu akal, ketika lapar dia akan mencari sesuatu yang dapat dimakan dengan mengunakan akal dia dapat membuat perangkap dengan peralata yang bersumber dari alam, lalu dia dapat membuat tombak dengan mengunakan batu yang tajam dan batang panjang yang keras dan  dapat membaut alat panah sebagai senjata jarak jauh. Begitu juga dalam hal bereproduksi, dengan memiliki rasa malu dia akan melakukan hubungan intim pada malam hari  dan tampa sepengetahuan orang, dalam proses kehamilan manusia pada umumnya  dan perempuan pada khususnya dia cendrung berkelakukan sangat berhati-hati sebab dia akan mempertahankan kehamilan untuk menyelamatkan keturunannya.  Selama lebih kurang sembilang bulan sepuluh hari proses panjang masa kehamilan, belum selesai sampai disitu dia akan membesarakan anak tersebut sampai masa dimana anak tersebut dapat melakukan reproduksi kembali. Namun bagaiamana femenis dalam pandangan pisikologis saat ini? Tentu menjadi pertanyaan sebab mausia memiliki dua perbedaan yaitu perempuan dan pria sama seperti binatang lainnya. 

Pengertian Feminin

Feminin adalah suatu pemikiran diluar kelaziman kodrat kewanitaan pada umumnya, namun tetap mengandung unsur naluri yang berbeda yaitu beranak atau memberi keturunan untuk kelangsungan hidup. Namun dalam kamus besar bahasa Indonesia pengertiannya adalah mengenai perempuan, seperti perempuan atau bersifat perempuan. Sedangkan menurut para ahli feminin adalah pola sosial yang menunjukkan bagiamana seorang wanita diharapkan untuk berprilaku kontras dengan maskulin. 

Sedangkan menurut Toeti Heraty perempuan dalam setiap situasi adalah suatu mahluk yang kebebasannya dibatasi. Perempuan sebagai person menjadi alat spesis manusia untuk meneruskan keturunannya. Baik karena tugas ini perempuan menjadi lebih terkekang oleh fungsi-fungsi jasmaninya, khusus dalam perannya sebagai alat reproduksi, menarche, dan pubertas fisik, inisiasi seksual, kehamilan, patus, serta monopause juga adalah fakta-fakta biologis yang dihayati olehnya. Peremuan melahirkan itu adalah sewajarnya suatu pernyataan sadistis (berkenaan dengan sifat sadis) pria. Bila ternyata pengarunya pada rasa keibuan berdasarkan prasangka dan perempuan yang bersangkutan dapat pula melepaskan diri dari prasangka ini.

Pandangan Pisikologis

Menurut Simone De Beauvoir, bahwa “Whenever she behaves as a human being she is said to imitate the male.” Maksudnya diluar fungsi produksi bahwa perempuan pada dasarnya menuruti dorongan untuk meniru pria alih-alih karena keinginannya sendiri. Feminis selalu meniru maskulian seperti bercelana Jans, keluar larut malam, dan bekerja pekerjaan kantor, intinya mengerjakan segalah seuatu yang bukan peruntukan perempuan.

Sedangkan dalam seks dapat dihubungkan dengan sejumlah sifat yang dianggap sebagai ciri-ciri khusus. Sifat feminin ialah pemalu, penurut, pasif, lemah lembut, dan sebagainya. Maskulin mempunyai sifat-sifat tertentu terbuka, aktif, keras, tegas dan lain sebagainya. Kenyataannya, sifat-sifat yang pada awalnya dianggap khusus feminin juga terdapat pada maskulin dan begitu sebaliknya. Meskipun batas-batas pada sifat-sifat pisikologis ini makin kabur, dasar pembedaan sifat tetap dipergunakan. Carl Gustaf Jung berpendapat bahwa masing-masing gender memiliki komponen dan sifat-sifat maskulin maupun feminin sekaligus. Bahwa masing-masing jenis kelamin memiliki materi genetik feminin maupun maskulin. Perbedaanya empirisnya hanyalah seberapa banyak laki-laki atau perempuan memilikinya.  Dalam teorinya baik laki-laki maupun perempuan memiliki keduanya sekaligus, aspek maskulin dan feminin. Namun, sifat tersebut terdistribusi dengan cara yang berbeda, dan perbedaan tersebut beraifat arketipal atau prototipe (model atau pola yang mula-mula, berdasarkan pola asli ini dibentuk atau dikembangkan hal yang baru), bukan melalui sosial maupun kultural. C.G.Jung mengatakan bahwa laki-laki bersifat maskulin diluar dan feminin di dalam. Sedangkan perempuan bersifat feminin diluar dan maskulin di dalam.

Pemikiran C. G Jung diperkuat oleh Sigmund Frued, dia mengatakan bahwa libido adalah terkhusus pada maskulin karena libido ini selalu bersifat aktif maka maskulinitas menjadi identik dengan aktifitas dan feminitas identik dengan pasivitas. Ini berati menurut perspektif biseksual, kedua macam dorongan tampak bersama-sama dalam satu gejala. Dorongan feminintas tidak khusus pada perempuan saja dan dorongan maskulinitas tidak khusus pada pria saja. Meskipun demikian, kedua dorongan atau kecenderungan tersebut dilihat sebagai kontras. Sigmund Frued melihat manusia esensial dalam norma-norma kepriaan. Meskipun berpegang pada teori biseksualitas, ia menafsirkan segala sesuatu mengenai perempuan dengan membandingkannya dengan pria yang memiliki posisi esensial. Oleh karena itu, hakikat femininitas adalah bahwa seorang perempuan mengetahui dan menyadari ketidaklengkapannya, dan secara sadar atau tak sadar hal itu akan memengaruhinya.

Foto feminis di Konferensi International Women Suffrage Alliance di Budapest, 1913, dari WikiCommons.

Bagikan:

M. Andry Mukmin, S.Ip., M.Si

Dosen Ilmu Politik & Pemerintahan, ICMI Kota Palembang

Tinggalkan Balasan