Pada usia 10 tahun, saya diajak berdiskusi oleh orang tua tentang rencana untuk melakukan operasi agar kaki saya dapat berfungsi secara normal. Rupanya ayah saya mendapatkan masukan dari temannya yang seorang perawat kesehatan, bahwa kaki kiri saya dapat berfungsi kembali secara “normal” dengan melalui operasi medis. Singkat kata, ayah membawaku ke sebuah rumah sakit daerah di Kediri. Saya menginap di rumah sakit selama lima hari untuk menunggu keputusan pelaksanaan operasi dari dokter. Terdapat dua pendapat berbeda dari dua orang dokter; pertama menyatakan bahwa operasi terhadap kaki saya dapat dilakukan untuk membuatnya menjadi normal, sementara dokter ke dua tidak perlu dilakukan operasi karena tidak berpengaruh terhadap kaki saya, cukup dengan latihan atau terapi rutin. Ditambahkan juga, jika tindakan operasi gagal, maka justeru akan memperburuk kondisi kaki saya. Dari hasil musyawarah keluarga memutuskan untuk membawa pulang saya dari rumah sakit. 

Paragraf di atas menggambarkan bagaimana masyarakat kita memandang disabilitas. Setiap orang yang terlahir ke dunia ini pasti mengharapkan menjadi individu yang sehat dan utuh tanpa kekurangan satupun dari bagian tubuhnya. Segala cara dilakukan untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal. Citra tubuh yang sehat dan ideal digambarkan sebagai tubuh yang atletis dan kekar berotot bagi laki-laki, sementara kulit putih mulus dan badan langsing dengan tinggi semampai sebagai citra tubuh ideal bagi seorang perempuan. Berbagai macam produk perawatan tubuh dan produk lain yang berkaitan dengan hal tersebut banyak beredar di toko dan supermarket bahkan iklannya pun memenuhi berbagai media masa; televisi, radio, dan koran. Seseorang akan merasa sangat bangga jika dia telah memenangkan sebuah kontes kecantikan atau kontes lain yang bekaitan dengan keunggulan bentuk tubuh. 

Situasi akan menjadi sangat lain ketika seseorang kehilangan salah satu anggota tubuhnya baik karena sebab kecelakaan maupun karena sebab lain. Diri dan keluarganya akan merasa sangat terpukul dengan keadaan tersebut. Begitu juga dengan sebuah keluarga yang memiliki anak difabel (cacat) akan memiliki rasa kekhawatiran terhadap masa depan anak tersebut. Menjadi cacat bagi sebagian besar orang merupakan tragedi dan aib yang sebisa mungkin dapat dihindari. 

Disabilitas selama ini selalu diidentikkan dengan kondisi atau keadaan yang negatif. Individu dengan kondisi disabilitas seringkali dijadikan obyek santunan dan bahkan tidak jarang dari mereka mendapatkan perlakuan diskriminatif baik dari individu lain maupun dari lembaga dan masyarakat. Kondisi ini tidak lepas dari konstruksi berpikir masyarakat kita terhadap disabilitas yang masih dikaitkan dengan kepercayaan-kepercayaan tradisional yang masih berkembang di masyarakat kita.

Belenggu Terminologi

Kata atau istilah yang dilekatkan pada para penyandang cacat (baik dalam bahasa Indonesia ataupun Inggris) selama ini lebih banyak mengacu kepada kondisi ketidakmampuan, kelemahan, ketidakberdayaan, kerusakan dan makna lain yang berkonotasi negatif. Seperti Tuna Netra, Tuna Rungu, Tuna Daksa, Tuna Grahita, dan bahkan kata cacat itu sendiri merupakan kata maknanya negatif. Tuna berarti hilang atau tidak memiliki, sedangkan cacat berarti rusak. Begitu juga dalam bahasa Inggris, ada kata disability yang artinya ketidakmampuan, invalid yang berarti tidak lengkap. 

Sementara Organisasi Kesehatan Dunia WHO dalam International Classification of Impairments, Disabilities, and Handicaps (1980) merinci definisi disabilitas dalam tiga terminologi. Pertama, impairment yang diartikan sebagai suatu kehilangan atau ketidaknormalan baik psikologis, fisiologis maupun kelainan struktur atau fungsi anatomis. Kedua disability diartikan sebagai suatu ketidakmampuan melaksanakan suatu aktivitas atau kegiatan tertentu sebagaimana layaknya orang normal yang disebabkan oleh kondisi impairment tersebut. Terakhir adalah handicap yang didefinisikan sebagai kesulitan atau kesukaran dalam kehidupan pribadi, keluarga dan masyarakat, baik di bidang sosial ekonomi maupun psikologi yang dialami oleh seseorang yang disebabkan ketidaknormalan tersebut 

Istilah tersebut di atas baik secara langsung maupun tidak langsung telah menimbulkan pengaruh psikologis yang cukup signifikan bukan hanya terhadap penyandang istilah tersebut namun juga terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap kelompok yang disebut sebagai penyandang cacat. Hanya karena istilah yang disandangnya mereka menjadi inferior (rendah diri), malu, merasa tak berguna dan tak punya harapan. Di lain pihak sebagian masyarakat memperlakukan mereka secara tidak adil, mereka dipandang sebagai kelompok tidak produktif, lemah dan hanya perlu untuk dikasihani dan disantuni. Kondisi ini diperburuk oleh para “orang sholeh” yang menjadikan para penyandang cacat sebagai ladang kebajikan untuk mengumpulkan “pahala”. 

Kata cacat yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti rusak. Kata ini pada dasarnya hanya tepat dilekatkan pada barang atau benda mati. Kata cacat tidak pantas dilekatkan pada makhluk hidup lebih-lebih pada manusia. Sebagai ilustrasi, ketika sebuah pabrik memproduksi botol atau kaleng secara partai maka akan ditentukan bentuk, ukuran serta beratnya. Misalkan; botol tersebut berbentuk silinder dengan tinggi 10 cm dan berat 100 gram. Maka ketika ada beberapa botol yang dikeluarkan oleh alat produksi dengan ukuran yang tidak sesuai dengan ketentuan, maka botol tersebut dikatakan cacat atau afkir. Coba kita bandingkan jika kata cacat tersebut dilekatkan pada manusia. Dari sekian miliar jumlah manusia di dunia ini tak satu pun yang diciptakan oleh Allah serupa atau sama persis baik dalam rupa, bentuk atau pun ukuran. Manusia selalu diciptakan berbeda bahkan hingga pada sidik jari pun praktis tidak pernah ditemukan kesamaan. 

Dalam kehidupan sehari-hari kata cacat akan dilawankan dengan kata normal. Sekarang yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kriteria manusia “normal” tersebut didefinisikan?

Apakah manusia “normal” adalah mereka yang memiliki tinggi badan sekian, berat sekian, dengan hidung mancung, mata demikian? Tentu sangat sulit membuat kriteria untuk menentukan manusia “normal”.

Dalam teori bahasa dan kekuasaan yang perkenalkan oleh Michael Foucault (1926–1984), menyatakan bahwa kelompok mayoritas memiliki pengaruh besar dalam menciptakan bahasa. Penyandang cacat sebagai salah satu kelompok minoritas tidak berdaya serta tidak punya pilihan sehingga menerima begitu saja istilah yang dilekatkan pada dirinya selama berabad-abad dan dipahami sebagai sebuah “budaya” yang tidak dapat dipisahkan dari sistem masyarakat kita. 

Dalam sejarah disabilitas di Indonesia, istilah untuk menggambarkan kondisi Penyandang Cacat telah mengalami evolusi. Pada dekade 70 dan 80–an, masyarakat dan pemerintah menyebut mereka yang menyandang kelainan fisik dan atau mental ini sebagai penderita cacat. Kata penderita didepan kata cacat dirasakan tidak menggambarkan kondisi objektif yang dialami oleh para penyandang istilah tersebut, terutama yang menyangkut kondisi psikologis. Hal ini dikarenakan tidak semua penyandang cacat memahami disabilitas sebagai sebuah penderitaan. Penderitaan yang diasumsikan oleh masyarakat pada umumnya terhadap penyandang cacat lebih disebabkan oleh persepsi orang yang tidak memiliki pengalaman sebagai seorang penyandang cacat. 

Kemudian untuk memperhalus istilah tersebut, maka para ahli bahasa Indonesia menggunakan istilah baru yaitu penyandang cacat. Istilah baru ini diharapkan dapat menempatkan kelompok ini lebih manusiawi. Namun sebagaimana yang telah diuraikan oleh penulis pada bagian awal tulisan ini, istilah ini tetap saja mengandung unsur ketidak adilan karena masih mengikut sertakan kata cacat yang hanya pantas untuk dilekatkan pada benda mati. 

Sekitar tahun 1998, beberapa aktivis gerakan penyandang cacat melakukan sarasehan di Yogyakarta dan memperkenalkan istilah baru untuk mengganti sebutan penyandang cacat. Difabel yang merupakan singkatan dari kata bahasa Inggris Different Ability People yang artinya Orang yang Berbeda Kemampuan diperkenalkan . Istilah Difabel didasarkan pada realita bahwa setiap manusia diciptakan berbeda. Sehingga yang ada sebenarnya hanyalah perbedaan bukan disabilitas. Kami para penyandang cacat pada dasarnya dan dalam kenyataannya dapat melakukan apa saja sebagaimana orang lain melakukan namun hanya caranya saja yang berbeda. 

Tanpa mengurangi rasa hormat pada kawan-kawan yang memperjuangkan istilah difabel, penulis menganggap bahwa istilah tersebut tidak banyak memberikan perubahan pada perilaku dan sikap masyarakat terhadap penyandang cacat. Kata tersebut tidak ubahnya sebagai kata penghalus seperti penggunaan kata tuna wisma untuk menyebut gelandangan dan kata Sejahtera 1, Sejahtera 2 untuk mengganti kata fakir miskin di zaman Orde Baru. Kata difabel menurut saya masih belum jelas keberpihakannya, kata yang masih mengambang dan mengandung bias makna. Bisa saja kata berbeda yang terkandung dalam kata difabel dimaknai oleh masyarakat cenderung negatif. Artinya masyarakat masih memandang kemampuan yang berbeda tersebut sebagai kemampuan yang rendah kualitasnya. Hal ini dikhawatirkan akan menjadi identitas baru yang menguatkan setereotype dan stigma terhadap penyandang cacat sebagai kelompok masyarakat yang lemah dan layak untuk disantuni. Apa pun istilahnya yang terpenting adalah perubahan sikap terhadap disabilitas dan itu dapat dimulai dari dalam diri para penyandang cacat dalam menyikapi kondisi diri. 

Disabilitas dan Konstruksi Sosial

Disabilitas merupakan hasil konstruksi sosial yang cukup panjang dan melibatkan berbagai aspek ilmu pengetahuan; ilmu kesehatan, budaya, sosial, dan ilmu statistik. Salah satu ilmu pengetahuan yang berpengaruh dalam mengonstruksi disabilitas adalah ilmu statistik yang memperkenalkan istilah normal kepada masyarakat. Ditilik dari sejarahnya, istilah normal, normality, normalcy, norm, average dan abnormal masuk ke daratan Eropa relatif belum lama. Kata-kata tersebut mulai diperkenalkan dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1840. Selanjutnya kata normal tersebut dipakai secara luas antara tahun 1840-1860. Jika konsep normalitas yang selanjutnya dibakukan dalam sebuah kata “normal” muncul di Eropa pada abad 19, lalu pertanyaannya apa yang melatarbelakangi munculnya pembentukan kata tersebut. Jawabnya adalah ilmu statistik –salah satu cabang ilmu matematika. Menurut Porter (1986), kata statistik muncul pertama kali pada tahun 1749 yang diperkenalkan oleh Gottfried Achenwall sebagai aritmatik politik- penggunaan data untuk kebutuhan negara dalam merancang kebijakan. Konsep ini kemudian beralih fungsi dari bidang politik ke bidang kesehatan ketika Bisset Hawkins memperkenalkan konsep medical statistik pada tahun 1829. Medical Statistik adalah sebuah konsep penggunaan angka untuk menggambarkan kondisi kesehatan seorang pasien. 

Selanjutnya seorang ahli statistik Prancis Adolphe Quetelet (1796-1849) membakukan konsep normalitas pada pola pikir masyarakat. Dia mengatakan bahwa “law of error” yang digunakan oleh para ahli astronomi dalam menentukan posisi bintang dengan menghitung masing-masing kekuatan cahaya dari seluruh bintang dan kemudian mengukur rata-ratanya, juga dapat diaplikasikan pada manusia untuk mengukur berat dan tinggi mereka. Kemudian Quetelet merumuskan konsep yang diberi nama “l’homme moyen” atau manusia rata-rata. Konsep manusia rata-rata ini kemudian diadopsi oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia, dimana ukuran rata-rata disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat di setiap negara. Selain itu Quetelet juga memperkenalkan konsep “kelompok dibawah rata-rata” yang dia sebut “les classes moyen”

Dua teori normalitas yang disodorkan Quetelet tersebut yang kemudian memunculkan konsep tentang disabilitas. Sebuah konsep yang didasarkan pada karakteristik rata-rata manusia. Karakteristik yang lebih menekankan pada kondisi fisik manusia seperti berat badan ,tinggi badan, dan bentuk tubuh. Maka jika ada salah satu kelompok atau individu dalam masyarakat yang memiliki karakteristik di luar karakteristik rata-rata, maka mereka digolongkan sebagai kelompok atau individu yang “tidak normal”. Konsep ini kemudian berpengaruh pada pola pikir masyarakat kita terutama para ahli kesehatan dalam melihat disabilitas. Mereka berpikiran bahwa sesuatu yang berada di luar standar kenormalan harus diubah atau disesuaikan untuk menjadi normal. Penyandang cacat adalah kelompok masyarakat yang berada di luar dari standar normal yang diyakini oleh masyarakat. Meskipun demikian istilah normal yang digunakan oleh masyarakat secara umum dalam konteks disabilitas sulit untuk didefinisikan. 

Disabilitas bagi sebagian besar masyarakat kita masih dipandang sebagai aib. Lebih dari itu ada sebagian masyarakat awam kita yang melihat disabilitas sebagai kutukan dari Tuhan atas dosa yang diperbuat oleh orang tua atau nenek moyang si penyandang cacat. Stigma yang melekat di masyarakat kita tersebut telah berakibat buruk pada kehidupan psikologis dan sosial para penyandang cacat. Banyak dari mereka yang hidup dalam keterbatasan ekonomi dan pendidikan sehingga secara umum mayoritas penyandang cacat hidup dalam jurang kemiskinan. 

Disabilitas pada dasarnya merupakan persoalan sosial yang butuh penanganan serius sebagaimana masalah sosial lainnya. Hal ini dikarenakan bukan saja karena disabilitas bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja, namun juga karena jumlah penyandang cacat di negeri kita berbanding lurus dengan frekuensi konflik sosial politik yang marak terjadi akhir-akhir ini.Yang lebih memprihatinkan lagi adalah fakta bahwa sebagian besar dari populasi penyandang cacat hidup dalam kemiskinan. Kondisi tersebut terjadi karena terbatasnya akses mereka dalam bidang ekonomi, politik, pendidikan, pelayanan umum dan kesehatan. Di samping itu secara umum masyarakat kita belum dapat menerima keberadaan kelompok penyandang cacat secara penuh sebagai bagian integral dari masyarakat. Keengganan masyarakat ini sangat erat hubungannya dengan mitos dan kepercayaan kuno yang masih melekat dalam masyarakat kita bahwa disabilitas adalah akibat buruk atau dosa yang harus ditanggung oleh seseorang dari perbuatan yang melanggar norma sosial. Kepercayaan yang tanpa dasar ini telah ditularkan turun temurun dari generasi ke generasi hingga berakibat buruk pada kehidupan para penyandang cacat saat ini. 

Dalam kehidupan sehari-hari isu disabilitas belum menjadi sorotan bagi para pemerhati masalah sosial dan pendidikan di Indonesia. Begitu pula di mata kaum agamawan, disabilitas masih dipandang sebagai kodrat, takdir dan ujian dari Tuhan yang harus diterima dengan penuh kepasrahan. Seruan dari para agamawan untuk sabar dan menerima keadaan apa adanya seakan menjadi obat penentram jiwa bagi para penyandang cacat. Sehingga penyandang cacat merasa bahwa disabilitas yang melekat pada dirinya dengan segala konsekuensi sosial yang dihadapinya (diskriminasi, marginalisasi, dan pandangan negatif masyarakat) sebagai kesatuan utuh yang harus dijalani oleh penyandang cacat dengan lapang jiwa. 

Disabilitas yang oleh masyarakat kita masih dimaknai sebagai sifat abnormal, ketidaksempurnaan, dan keadaan yang rusak sehingga perlu untuk disempurnakan. Pemaknaan kata cacat sebagai ketidaksempurnaan ini menjadi sangat kontroversial jika dikaitkan dengan hakikat penciptaan manusia. Jika entitas manusia dipandang sebagai hasil dari sebuah proses penciptaan maka disabilitas dapat juga dimaknai sebagai ketidaksempurnaan dari sebuah proses penciptaan manusia yang dilakukan oleh Tuhan. Jika demikian adanya tentu ini sangat bertentangan dengan keyakinan umum dalam agama bahwa Tuhan memiliki sifat Yang Maha Sempurna. Kemudian pertanyaannya, mungkinkah Tuhan melakukan kesalahan atau kekhilafan dalam penciptaan manusia sehingga sebagian dari mereka menjadi cacat? Tuhan jelas jauh dari kesalahan dan kekhilafan karena segala yang dilakukan-Nya tentu telah diperhitungkan dengan matang, detail, dan saksama. Oleh karena itu semua hasil karya Tuhan selalu diliputi oleh sebuah maksud dan jauh dari sifat sia-sia.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan