Setelah Krishna wafat pada permulaan zaman Kaliyuga, Yudhistira dan keempat adiknya mengundurkan diri. Mereka meninggalkan tahta kerajaan, harta dan keterikatan duniawi. Melakukan perjalanan terakhir, mengelilingi bharatawarsha, menuju puncak Mahameru. Panca Pandawa itu melakukan Bhrasta Yoga, melepaskan diri dari badan kasar menuju alam Sunia.

Pendakian itu begitu panjang, meletihkan dan berbahaya. Sejak di batas kota Hastina, semua pengantar mengundurkan diri. Namun seekor anjing menemani Yudhistira. Ia menjadi penolongnya jika jalan sulit dan sesat arah. Hewan tersebut menjadi pendamping perjalanan Pandawa yang setia. Hanya Yudhistira dan anjingnya yang berhasil mencapai puncak. Istri serta empat saudaranya satu per satu mati di jalan. Anjing yang lemah itu turut menanggung semuanya.

Dewa Indra, pemimpin kahyangan, datang menjemput Yudhistira di gerbang swarga. Namun, Indra menolak anjing yang dibawa Yudhistira. Sebaliknya, Yudhistira menolak masuk swargaloka apabila harus berpisah dengan sahabatnya itu. Karena bagi Yudhistira meremehkan kesetiaan itu dosanya sama dengan membunuh Brahma. Kesatria telah bersumpah tidak akan meninggalkan orang yang ketakutan, orang yang mencari perlindungan, orang yang sedang terkena musibah dan orang yang setia.Namun Dewa Indra tetap tidak mengijinkan Yudhistira membawa anjing masuk.

Raja tua itu diam sejenak. Baginya surga menjadi tempat yang sewenang-wenang.Ia memutuskan tak hendak masuk ke sana. Jika ia melangkah ke dalam, itu berarti ikut mengukuhkan ketidakadilan. ”Kalau begitu, hamba tak akan masuk,” katanya. “Hamba tak layak di sini.””Lebih baik hamba kembali.”Ia pun membalikkan badan, melangkah meninggalkan gerbang dengan memeluk anjing yang kurus dan kotor,dan menggonggong lirih. Dalam diri binatang yang tanpa 2pamrih itu Yudhistira menemukan sosok makhluk yang mulia dan kepadanyalah ia merasa berhutang budi. Tapi kahyangan telah menghinanya.

Dalam keadaan genting dan sangat menentukan, Yudhistira lebih memilih untuk tidak menghianati kehinaan seekor anjing yang setia,daripada menjadi bagian kemegahan swargaloka yang maha steril itu. Makhluk yang menolongnya sampai ke gerbang surga itu akhirnya tak penting identitasnya sebagai anjing, namun perbuatannya adalah pengejahwantahan Dharma. Menyaksikan semuanya,dunia dewa-dewi bergoncang hebat. Campur aduk antara haru, jengah, risih, tersipu malu dan iri terhadap pengurbanan dan kesetiaan kedua sahabat itu. Seketika itujuga maka runtuhlah keilahian swargaloka.

Jacques Derrida menyadari bahwa persahabatan adalah suatu hal yang mustahil. Apabila itu memang ada dan terjadi, maka layak dihormati. Dalam The Politics of Friendship, Derrida menyelidiki sejarah politik persahabatan (philia politike) melalui gagasan demokrasi persaudaraan (fraternity/brotherhood) yang selalu menghantui tradisi Barat.Melalui bukuitu juga, Derrida berusaha mendekonstruksi gagasan persaudaran yang menjadi salahsatu dasar Revolusi Perancis, yang justru telah membuahkan banyak sekali tekanan,penderitaan dan siksaan ataswarganya. Persaudaraan adalah bentuk demokrasi yang mengancam keramahan kosmopolis, menyusutkan persahabatan menjadi sekadar persaudaraan berdasarkan pertalian darah (kesamaan) dan nasionalisme (keseragaman) belaka. Sebaliknya,Derrida menawarkan suatu persahabatan yang sejati dalam kehidupan politik,yang melampaui perhitungan (kalkulasi), kesetaraan tanpa aritmatika dan suatu komunitas tanpa keseragaman. Derrida menantang orang untuk berani membayangkan suatu persahabatan berada tepat di mana keberlainan itu tidak dapat diterima.

Derrida sebagai seorang Yahudi Aljazair telah mengalami langsung ketidakramahan demokrasi persaudaraan itu. Ketika masih duduk di bangku sekolah, ia bersama teman-teman Yahudinya dipaksarumahkan kembali ke ibunya. Karena pada tahun 1942, negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam itu telah menetapkan suatu peraturan anti-semitis. Pada tahun 1949 di Paris,ketika bersekolah di Ecole Normale Superieure, ia juga menanggung pengucilan yang serupa. Derrida tercengang menemukan kenyataan bahwa baik Yahudi, Kristen dan Islam, yang sama-sama mengklaim sumber kebenaran, namun pada saat itu juga mereka sama-sama saling membenci setengah mati satu terhadap yang lainnya.

Dengan gaya pemikiran dekonstruksinya itu, Derrida menjadi lebih sering disalahmengerti, karena ia juga memang selalu mengelak untuk dapat dipahami. Padahal dengan itu, ia hanya ingin mengajak orang untuk menanggalkan kesetiaan yang berlebihan kepada gagasan yang diyakini selama ini,dan pada saat yang sama berusaha mencari suatu bagian kebenaran pada sisi yang berseberangan.

Dekonstruksi berbicara tentang adanya suatu kesatuan tenunan (text) dalam hal-hal yang saling bertentangan. Dekonstruksi juga berusaha menunjukkan adanya kebingungan, ketidaklogisan, inkonsistensi, pertentangan, paradoks dan ketidakmungkinan (aporia) pada suatu gagasan tertentu, serta berupaya untuk tetap mempertahankan kekacauan tersebut. Contoh dapat diambil dari Surah Al-Kahfi ayat 65-82. Diriwayatkan bahwa Musa bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Allah SWT, yaitu Nabi Khidir AS, yang telah diberikan rahmat dan diajarkan ilmu dari-Nya. Musa memohon kepadanya untuk dapat mengikutinya supaya dapat belajar kepadanya ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan Allah itu. Nabi Khidir AS mengingatkan bahwa sesungguhnya Musa sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersamanya.Karena Musa belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang kesabaran. Namun Musa mendesak dengan bertekad akan sabar dan tidak akan menentangnya. Nabi itu selanjutnya mengingatkan Musa supaya tidak menanyakan tentang sesuatu pun hingga ia sendiri menerangkan kepadanya.

Dalam perjalanan mengikuti Nabi Khidir AS, Musa terkejut ketika ia menghancurkan perahu yang tengah mereka tumpangi bersama. Musa tak kuasa untuk bertanya kepadanya. Nabi itu mengingatkan Musa, bahwa ia tidak akan sabar dengannya. Musa meminta maaf karena telah mengingkari janjinya.

Selanjutnya setelah mereka sampai di daratan, Nabi Khidir AS membunuh seorang anak yang mereka jumpai di sana. Musa tak kuasa untuk menanyakan hal tersebut kepadanya. Nabi itu kembali mengingatkan janji Musa, dan memberikan kesempatan terakhir untuk tidak bertanya-tanya lagi, jika masih ingin mengikuti perjalanan bersamanya.

Mereka melanjutkan perjalanan hingga sampai di sebuah perkampungan. Mereka kelelahan, namun penduduk di situ tidak menyambut dan tidak menerima kehadiran mereka. Musa merasa kesal, tetapi Nabi Khidir AS malah memperbaiki diding sebuah rumah yang rusak di sana. Musa kembali tidak kuasa untuk bertanya kepada Nabi Khidir AS tentang kejadian itu.Akhirnya Nabi Khidir AS memutuskan untuk berpisah, Musa tidak diperbolehkan untuk melanjutkan perjalanan bersamanya lagi.

Kemudian Nabi Khidir AS menjelaskan mengapa dia melakukan hal-hal yang membuat Musa bertanya-tanya. Perahu itu adalah kepunyaan nelayan miskin. Di depan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu yang lewat.Dengan merusak perahu,maka ia telah menghindarkan nelayan miskin dari raja kejam tersebut. Anak itu, kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran. Kiranya Tuhan mengganti bagi mereka dengan anak lain yang saleh dan menyayangi ibu bapaknya. Dinding rumah adalah milik dua orang anak yatim di kampung itu, yang di bawahnya ada harta warisan yang tersimpan bagi mereka berdua. Ayah mereka adalah orang yang saleh, Tuhan menghendaki agar mereka menemukan warisan itu pada saat sudah dewasa nanti. Nabi Khidir AS mengakhiri penjelasannya itu, dan menyatakan bahwa perbuatan-perbuatan yang dilakukannya itu bukanlah menurut kemauannya sendiri. Perbuatan-perbuatan yang olehnya Musa tidak dapat sabar terhadapnya.

Contoh lainnya, gagasan tentang kesetaraan dan keadilan, yang pada awalnya nampak seperti lebih baik dari ketimpangan dan ketidakadilan. Namun, jika diperhatikan lebih jauh, pada akhirnya kedua gagasan itu terbukti tidak jelas dan tidak pasti dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Dekonstruksi menyadarkan bahwa tidak ada suatu jawaban dan pemecahan yang baik dan benar. Kekacauan justru terjadi ketika orang berusaha keras untuk mencari suatu jawaban yang pasti dan jelas. Padahal hidup ini telah membuktikan bahwa sesungguhnya manusia itu tidak memerlukan jawaban yang jelas dan pasti.

Dengan dekonstruksinya itu Derrida ingin mewaraskan kecenderungan kasar manusia untuk selalu berpikir terlalu sederhana, dan sebaliknya, menawarkan kenyamanan pada kebijaksanaan yang selalu bergerak. Misalnya, kebingungan akan muncul apabila orang berusaha untuk menggabungkan kapitalisme dengan sosialisme.Menjadi bingung, ragu dan tidak pasti itu merupakan suatu kebijaksanaan, bukannya kebodohan dan kelemahan.

Dekonstruksi berusaha membangunkan orang dari keluguan keyakinannya yang berlebihan terhadap kemampuan akal dan bahasa (logosentrisme). Padahal bagi Derrida ada banyak hal yang tidak dapat diungkapoleh akal dan bahasa, misalnya persahabatan. Dekonstruksi adalah kesederhanaan, kejujuran dan kesabaran untuk dapat sekilas ikut melihat kebenaran yang bersifat sementara dari sisi yang bertentangan.Namun dekonstruksi ini juga menyadarkan bahwa persahabatan sejati itu bersifat aporia.

Dekonstruksi Derridean adalah pemikiran kembara,yang tak bersarang. Berselancar, tepatnya berenang di tengah samudera aporia realitas yang bergelora. Gelombang benar-salah, baik-buruk, indah-jelek, dst. Ombak realitas itu sebenarnya adalah kerumitan dan gerak kategori pikiran dan bahasa manusia sendiri. Yudhistira tidak meng-unfriend anjingya, dengan itu ia telah mendekonstruksi dunia para dewata.

Derrida merujuk pada pandangan Aristoteles dalam The Nichomachean Ethics Buku VIII dan IX, yang membagi tiga jenis persahabatan (philia):

  1. Persahabatan berdasarkan manfaat. Persahabatan ini didasarkan pada keuntungan dan manfaat yang didapatkan dari masing-masing pihak yang terlibat dalam hubungan itu. Contohnya, teman sekelas, teman bisnis dan orang lanjut usia. Aristoteles menilai persahabat semacam ini bersifat dangkal dan mudah bubar, karena didasarkanpadasesuatu selain pribadi sahabatnya.
  2. Persahabatan berdasarkan kesenangan. Persahabat ini didasarkan pada kesenangan dan kenikmatan yang didapatkan dari kepintaran, kegagahan atau kecantikan dan kualitas menarik lainnya dari diri orang lain. Persahabatan ini biasanya muncul pada anak-anak muda, sepasang kekasih atau sekelompok teman yang memiliki kesamaan minat dan kesenangan.
    Bagi Aristoteles, kedua jenis persahabatan di atas bersifat sementara, karena tidak didasarkan pada suatu yang hakiki, yang terdapat pada diri sahabatnya. Keduanya berjalan sangat singkat, karena keinginan dan kenikmatan manusia cenderung selalu berubah setiap saat.
  3. Persahabatan berdasarkan keutamaan (arete). Persahabatan ini didasarkan pada keutamaan, di mana kedua orang saling menghormati potensi orang lain, dan menolong untuk mencapai perwujudnyataan kehidupan yang terbaik, menjadi pribadi yang sebaik mungkin (eudaimonia). Persahabatan ini membuat masing-masing saling menikmati karakter kepribadian masing-masing. Masing-masing mengharapkan dan mengusahakan kebahagiaan sahabatnya. Keutamaan bersifat lebih langgeng, sehingga persahabatan yang didasarkan padanya cenderung bertahan lama. Persahabatan ini saling memberi manfaat dan kesenangan satu kepada yang lainnya. Persahabatan jenis ini sangat langka dan membutuhkan waktu yang lama untuk membangunnya. Aristoteles mengakui bahwa persahabatan ini (philia) adalah bentuk persahabatan yang sejati dan tertinggi.

Aristoteles percaya bahwa sebuah negara (polis) terbentuk melalui ketiga jenis persahabatan tersebut. Masyarakat yang kokoh dibangun berdasarkan utamanya pada persahabatan berdasarkan keutamaan. Meskipun persahabatan berdasarkan manfaat dan kesenangan juga menjadi bagian lain yang melengkapinya. Dalam sebuah persahabatan sejati, keadilan tidak dibutuhkan lagi, tetapi orang yang adil masih tetap membutuhkan persahabatan. Persahabatan adalah bentuk terutuh keadilan. Persahabatan bukanlah hal yang niscaya, namun menakjubkan. Persahabatan adalah bagian terbaik dari kehidupan manusia.

Negara Kesatuan Republik Indonesia dibentuk berdasarkan kesepakatan dan perjanjian rasional, untuk memelihara hak-hak asasi manusia, kepentingan bersama/umum dan kepentingan pribadi, yang dituangkan dalam Undang-Undang Dasar 1945. Dekonstruksi Derridean Politik Indonesia tidak hendak menolak kenyataan historis konstitusional itu. Namun bersama-sama berusaha membangun kehidupan politik 7yang didasarkan pada ikatan batin yang tidak formal dan prosedural, yaitu dengan cara memotong aspek material politik tradisional tersebut. Karena kehidupan politik itu dibangun bukan atas dasar kesepakatan rasional semata, tetapi juga melalui persahabatan sejati, yang menyatukan warga dalam satu keseluruhan kehidupan politik.

Yudhistira dan anjingnya adalah suatu tenunan (text) tanda dari tanda (gramma) aporia persahabatan sejati, yang menantang manusia Indonesia untuk berani bersahabat bahkan dengan musuh bebuyutannya sekalipun. Jika selama ini orang mendengar hukum yang mengatakan: “Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.” Maka Derrida mendekonstruksinya melalui Carl Schmitt yang mengutip Injil Matius 5: 44-dst: “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.” Rasul Paulus dalam Surat Roma 12: 20 membubuhkan: “Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum!” Sementara itu, Injil Lukas 6: 27-36 memberi alasannya: Karena “jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian? Tetapi kamu, kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka.”

Persahabatan dekonstruktif rupanya mampu merangkul jauh sampai kepada calon sahabat, yaitu musuh untuk dikasihi. Namun, persahabatan ini tidak menutup kemungkinan bagi seorang sahabat yang kemudian menjadi musuh, namun masih harus tetap dikasihi sebagai sahabat sejati,sama seperti sebelum bermusuhan. Persahabatan, bahkan seperti yang diusulkan oleh Zizek dalam The Puppet And The Dwarf, menuntut suatu bukti kesetiaan sejati yang radikal dan revolusioner, yaitu penghianatan. Seperti Yesus sendiri perintahkan kepada Yudas Iskariot. “Yudas, anak Simon,apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Yudas kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Apa yang hendak kauperbuat, perbuatlah dengan segera.” Persahabatan dekonstruktif tidak pernah mengenal permohonan maaf dan pemberian pengampunan, karena persahabatan adalah aporia.

Aporia adalah kedamaian batin (ataraxia) karena bebasmandiri (autark), meskipun dikhianati oleh para sahabat,ditinggalkan oleh Allahnya,bahkan dianiaya hingga tewas mengenaskan. Persahabatan adalah kunci dekonstruksi politik Indonesia saat ini.Siapkah warga negara Indonesia sebagaiwarga dunia menjadikan persahabatan (philia) sebagai karakter dan kebiasaan (habitus) kehidupan politiknya?Namun politik itu seperti gua Plato (matrix). Di mana Neo dan Agent Smith,dalam trilogi film The Matrix, bertarung meskipun memiliki tujuan yang sama,yaitukeluar bebas dari kenyataan matrix yang mengalienasi manusia. Neo berhasil menyelamatkan manusia sekaligus matrix, sementara Agent Smith gagal menghapus matrix dan manusia. Pada akhirnya, keterasingan dan usaha untuk bebas dari keterasingan telah terprogram dalam matrix itu sendiri. Politik adalah matrix. Temet Nosce!

Tingsruput, September 2017

Kepustakaan

Aristotle. Nicomachean Ethics.University of Chicago Press, Chicago, 2011.

Derrida, Jacques. Politics of Friendship. American Imago, 1993.

Derrida, Jacques. The Politics of Friendship. Verso, London, 2005.

Irwin, William(Ed.). The Matrix and Philosophy: Welcome to the Desert of the Real. Open Court Publishing Company, Chicago, Illinois, 2002.

Irwin, William(Ed.). More Matrix and Philosophy: Revolutions and Reloaded Decoded. Open Court Publishing Company, Chicago, lllinois, 2005.

Schimmel, Annemarie.Mystical Dimensions of Islam. University of North Carolina Press, Chapel Hill, 1975.

Thomson, Alex. Deconstruction and Democracy. Derrida’s Politics ofFriendship. Continuum, London, 2005.

Zizek, Slavoj. The Puppet and The Dwarf.MIT Press, Cambridge, Massachusetts, 2003.

Foto Museum Desain Vitra oleh Wladyslaw di Wikimedia Commons.

Bagikan:

Tinggalkan Balasan